Saya Memaklumi Perasaan Sersan

/ Selasa, 23 Juli 2013 /
JOGJA- Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi sidang di Pengadilan Militer di Banguntapan. Agendanya mendengarkan keterangan anggota kopassus yang terlibat penembakan empat titipan tahanan di LP Cebongan beberapa bulan lalu. Sejak kasus itu bergulir orang-orang Jogja bahkan Indonesia, disekat pada dua kontradiksi hingga sekarang. Ada yang mendukung aksi satuan kopassus, ada yang mengecam tindakan tersebut. Namun propaganda yang nampak nyaris semuanya berbau dukungan.
Selama hidup, saya baru pertama kali mngunjungi pelaksanaan sidang militer. Jaksa penuntut umum atau kalau di sana disebut oditur sangat berbeda dengan di pengadilan negeri sipil lainnya. Bedanya, oditur ini sangat tegas, formal, teliti, dan introgatif. Tingkat kedisiplinannya pun jauh berbeda dengan kasus persidangan di pengadilan sipil yang pernah saya ikuti. Agenda jam 09.00 ya jam 09.00 tidak ada istilah jam karet, adanya jam besi.
Ketika saya sampai di sana pukul 09.15., ruangan sidang sudah penuh sesak. Saya tidak mengerti dari elemen mana saja. Ormas-ormas yang ada, beratribut beda yang katanya ingin turut mengawal jalannya sidang. Separuh dari ormas-ormas itu berjaga-jaga di luar pengadilan  dan beberapa lainnya turut menyaksiakan sidang. Walau sebelumnya sempat diperdebatkan, tak boleh ada ormas yang mengawal, “Nanti malah bikin rusuh,” kata salah satu angggota DPRD DIJ. Tapi Ormas yang suka teriak “Allahu Akbar-Allahu Akbar” tak ada, atau saya yang tak melihat.
Well tidak masalah. Berbekal kartu pers dan sedikit ubet akhirnya saya bisa masuk dan mengikuti sidang dengan khidmat. Bahkan saya dapat dengan jelas melihat wajah-wajah kopassus yang sebelumnya sempat terbayangkan seperti Sylvester Stallone aktor ‘Rambo’ dan Steven Seagal saat membintangi ‘Hard to Kill’ yang sangat bengis.
Bayangan itu muncul ketika pada suatu pagi empat tahanan titipan di Lapas Cebongan ditemukan tak bernyawa dengan kondisi yang mengenaskan. Foto-fotonya menyebar di media sosial. Tampak puluhan selongsong peluru yang kalibernya tanggung berserakan menghiasi frame foto. Jasad si mayat rusak parah. Asumsi general pagi itu, Jogja tak aman lagi. Pelakunya pasti bukan orang biasa.
Media panen besar dan sibuk benar. Kasus berdarah itu bak petani memanen padi atau melon segar. Duga-menduga sebagai ciri khas manusia Indonesia pun menyebar. Kabar beredar seperti udara. Di mana-mana orang membicarakan kasus itu. Semakin mengenaskan semakin seru. Orang yang kritis menyalahkan media yang katanya membesar-besarkan. Sedangkan orang yang logis memaklumi bahwa imjanisasi orang Indonesia memang sangat tinggi. Terutama dalam hal bertutur.
Usut punya usut sang pembantai itu pun akhirnya terdeteksi. Kopassus dari satuan Kandangmenjangan Solo pelakunya. Jumlahnya kurang lebih 12. Namun yang hadir di persidangan yang saya saksikan waktu itu, 3 orang. Konon katanya, 12 terdakwa ini memang di sidang di tempat yang berbeda, entahlah. Oh ya, pakainnya hijau tua ketat. Berseragam dan beratribut lengkap kecuali senjata dengan baret merah yang terlipat di pundak. Gagah sekali.
Satu persatu, ketiga tersangka yang hadir saya amati dengan detil. Satu persatu saya pandangi sambil membayangkan sosok Sylvester Stallone tadi. Tiada yang mirip. Wajah-wajah bengis yang saya harap justru tampak karismatik. Mungkin pribadi saya tergolong yang mendukung waktu itu. Macam bocah yang condong ke aktor utama protagonis usai menonton sekuel Rambo 4. Atau para penggila boyband yang menangis histeris pingin ketemu sang idola. Seperti itu, ya hampir seperti itu.
Serda Ucok Tigor Simbolong,
 ada yang bilang dia mirip Ariel,
 hanya saja tidak perawatan
“Serda Ucok Tigor Simbolong,” panggil sang oditur waktu itu. Yang disebut pun menjawab dengan tegas, dengan tenang, dan masih saja karismatik. Dari informasi yang saya ikuti, Sersan Ucok ini disebut-sebut sebagai eksekutor. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak mendalami kasus ini dari awal. Sebab bukan ranah saya meliput kriminal. Saya hanya mendampingi Mas D., dan bertugas mencarikan foto saja, selain memenuhi hasrat penasaran, dan ingin ketemu sang idola.
Perkembangan kasus itu hanya saya dapat dari Mas D., wartawan spesialis kriminal yang sudah 8 tahun bekerja di surat kabar yang sama dengan saya. Bedanya, saya baru 4 bulan. Kata Mas D., Serda Ucok ini yang mengeksekusi mati empat tahanan dengan senjata laras panjang.
Naluri wartawan untuk menulis apapun yang terasa menarik saya lakukan. Saya kira tak hanya saya yang menulis karena saya bukan satu-satunya wartawan di sana. Saya menulis semua yang dikatakan Serda Ucok, di persidangan waktu itu. Walau tak komplit, inti ceriteranya saya garis bawahi.
Dari kabar yang mas D., ceritakan sebelumnya, kopassus itu membantai empat tahanan dengan sadis. Kabar-kabar seputar penyiksaan sebelum dihabisi nyawanya juga menggetarkan. Ada media yang menulis, beberapa tahanan yang lain disuruh bertepuk tangan saat eksekusi berlangsung. Para penjaga lapas juga diserang, dipopor pakai senjata laras panjang hingga pingsan, dan sebagian lainnya diintimadasi. Bahasa mereka, dilumpuhkan.
Motif pembantaian pun diduga sebagai pembalasan dendam atas penganiayaan anggota kopassus yang dilakukan keempat korban sebelumnya yang berujung maut. Apalagi, sempat dilansir media salah seorang korban, merasa puas bisa membunuh seorang kopassus. Macam anak SMA di Jakarta yang merasa puas usai membunuh. Dan bodohnya kenapa M. Nuh bertanya demikian?
Satuan kopassus yang mendengar sejawatnya dihabisi tak tinggal diam. Dari Solo akhirnya ke Jogja dengan mengantongi jiwa korsa, tak lupa senjata. Kesamaan rasa atas apa yang dialami sejawat dalam sebuah satuan atau organisasi menjadi pemanis tragedi ini. Setidaknya jiwa korsa yang sering diucapkan bocah-bocah pramuka kini diteriakkan oleh orang-orang dewasa.
Mas D., yang biasanya tak banyak bicara menilai, kalau satuan kopassus pasukan elit TNI AD itu sangat berbeda dengan satuan Brimob milik POLRI. Bedanya, jika anggota satuan kopassus terlibat sebuah kasus maka anggota satuan yang lainnya saling membantu dan melindungi. Sedangkan Brimob, kata Mas D., jika anggota satuannya terlibat kasus justru ditinggalkan dan diasingkan. Antarpersonil justru saling pergi dan meninggalkan. “Malah kadang do makakke,” tambah Mas D., yang saya rasa sangat subyektif. Yang POLRI tak perlu tersinggung daripada tak bilang ACAB.
Diam-diam saya mengagumi Sersan Ucok. Entah kenapa saya tiba-tiba melihat seorang pembunuh yang sangat cool dan laki banget. Ah mungkin saya terlalu muda untuk mencicipi kasus ini sehingga yang muncul di pikiran saya, siapa yang pahlawan siapa yang musuh. Seharusnya tidak begitu, biar hukum yang berbicara.
Tetapi mari simak dulu Sersan idola saya itu berbicara.
Sepatah dua patah ucap, ketenangan Sersan Nampak terganggu. Terlebih saat Sersan mengaku tak bermaksud membunuh keempat korban. Saya menangkap kok pengakuan Sersan berbeda dari yang saya harap sebelumnya. Sersan mengaku diserang terlebih dahulu. Sersan panik dan langsung memberondong 2 tahanan yang melawan. “Saya tak bermaksud membunuh saya hanya ingin memberi pelajaran,” ujar Sersan yang membuat saya menelan ludah.
Sersan mengaku diserang dengan kruk (alat bantu berjalan) salah seorang tahanan. Hal itu tentu menepis pemberitaan sebelumnya soal perintah tepuk tangan dan penganiayaan. Sersan membunuh dengan cepat dan tak terencanakan, bahkan. Semakin lama Sersan bercerita semakin hilang pesonanya, setidaknya bagi saya. Logika-logika yang tak sampai menggerogoti simpati saya terhadap Sersan. Ah sial, tulis sajalah.
Usai persidangan keinginan untuk foto bersama Serda Ucok, sirna. Saya kecewa namun paham kondisi sersan. Saya menunduk malu sampai melihat sepatu. Tetiba salah seorang menghentak, “Salam Komando.” Massa yang hadir, hampir seluruhnya menjawab serupa. Nyaris serentak, keras, bertenaga seperti bukan tenaga orang yang sedang puasa. Ruangan menggema. Lagi, disusul kemudian, “Hidup rakyat Jogja” sahutan yang muncul tak seriuh yang pertama. Bahkan banyak yang tidak merespons. Ketiga tersangka sudah masuk mobil tahanan termasuk Sersan.
Barangkali memang massa yang hadir tak seluruhnya orang Jogja. Atau barangkali ada kekecewaan yang mengikis simpati. Ah mungkin perasaan saya saja yang terlalu labil. Saya kembali melihati sepatu, menunduk dan keluar ruangan.
Tetapi seandainya saya bisa mensekenario, saya ingin Sersan tak berbicara seperti itu. Entah mana yang benar. Saya rasa jawaban Sersan tak logis bahkan saya yang masih bocah mengira-ngira. Mana mungkin tahanan itu menyerang terlebih dahulu? Seharusnya yang panik bukan Sersan tapi si korban? Sersan bersenjata, sementara korban hanya pesakitan yang menunggu diproses esok harinya.
Saya terus meraba-raba sampai di balik tujuan omongan Sersan. Mengapa, mengapa Sersan berbohong? Apakah Sersan melakukan itu untuk keringanan hukum? Apakah dia juga disetting? Apakah itu caranya untuk melindungi kesatuannya? Tanda tanya itu melayang, mengabur pada sebuah seminar beberapa hari silam.
Sebelum saya datang ke sini, Ketua Komisi Yudisial dalam seminar yang digawangi JPIP dan USAID pernah mengatakan, untuk membentuk satu orang kopassus, pemerintah menghabiskan dana kurang lebih 6 milyar. OMG, entah benar entah salah, wallahua’lam bisshawab.
Waktu itu saya langsung mentotal, 6 x 12 sama dengan 72 Milyar. Jika sampai 12 anggota kopassus itu terbukti bersalah sama saja pemerintah merugi 72 milyar. Pahitnya, 72 milyar hanya diganti dengan tewasnya 4 preman. Jadi satu preman dihargai 18 milyar. Hey kenapa jadi itung-itungan begini. Kembali melihati sepatu.
Mas D., bertanya, “Dapat fotonya?” saya menggeleng. Anehnya, sebegitu mas D., memaklumi gelengan saya. Mas D., tak kecewa. Bilangnya, “Ya sudah, saya sudah titip teman saya dari Kompas.com kok tadi.”
Saya kembali melihati sepatu.
Di ujung sepatu yang talinya lepas itu muncul bayangan Ketua Tim Penasehat Hukum yang dalam sidang tadi menyatakan, jika tindakan perbuatan kejahatan mendapat tanggapan positif dari masyarakat, pelaku bisa lepas dari tuntutan hukum selama termaafkan.
Artinya kenapa Sersan tak bicara jujur saja, menghabisi dengan berani yang barangkali stigma masyrakat waktu itu mengarah pada anti premanisme. Dukungan jelas mengalir padanya, bahkan sempat digadang-gadang 12 kopassus termasuk Sersan adalah pahlawan dalam memberantas preman.
Pakar Psikolog Forenssik yang juga dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi ahli psikologi atas tiga terdakwa yang berada dalam berkas pertama tersebut malah berasumsi, saat mengeksekusi Sersan sedang mengalami stres disorder.
Kondisi itu bisa saja muncul setiap saat. Satu penyebabnya karena ketiadaan latihan managemen stres. "Sumber-sumbes stres dissorder di militer sangat banyak, misalnya ada tekanan berat, pelatihan fisik yang luar biasa serta masih bayak lainnya," katanya.
Seorang yang melakukan tindakan nekat bisa dikategorikan dalam kondisi stres dissorder. "Melakukan tindakan, tanpa  berfikir jangka panjang, sudah masuk pada sindrom krisis akut, atau berbuat nekat. Setiap orang bisa terjangkit sindrom krisis akut, hanya takarannya berbeda-beda dalam mengendalikannya," tambahnya.
Selain menganggap Sersan stres, pakar Psikolog Forensik itu juga bilang ada kemungkinan kondisi korban juga sedang stres sehingga membahayakan dirinya sendiri. Bahkan Psikolog Forensik itu menganalogikan, ada pria hanya menakut-nakuti seorang wanita yang berada di lantai dua. Pria ini tidak menyentuh sama sekali kepada si wanita tadi. Namun, karena kondisi stres, wanita itu meloncat dari lantai dua dan terluka parah bahkan mati.
Intinya, pakar Forensik itu ingin bilang, situasi krisis akut karena kondisi sesuatu yang tidak terduga atau diperkirakan sebelumnya dapat menyebabkan hal yang tak terduga sehingga berakhir tidak sesuai target.
"Orang seperti itu kalau menjalani perkara hukum harus mendapat keringan karena tidak bermaksud melukai atau membunuh," pungkasnya.
Sesampainya di kantor, saya tidak tahu apa yang harus saya tulis sedang foto pun tak saya dapat. Mungkin saya juga sedang stres sehingga apa yang saya rencanakan berakhir dengan hal yang tak saya duga. Tapi ternyata mas D., tidak stres mungkin karena mas D., sudah terbiasa menyaksikan sidang semcam itu.
Dalam keadaan stres waktu itu saya tetap bisa menangkap apa yang Sersan katakan. Saya cuma ingin bilang, saya paham perasaan Sersan. Anda stres? Saya juga stres. Semua orang stres.




Untung Saja Ponselku Gak Low-Batt

/ Senin, 18 Maret 2013 /

Lebih kurang 235 Km jarak tempuh untuk pulang kampung, sekadar bertemu mamak bapak, dan 12 kucing di rumah.

Ini ke dua puluh tiga kalinya aku pulang kampung, terhitung sejak merantau di Jogjakarta. Sebanyak tiga belas kali naik bus dan sepuluh kali mengendarai sepeda motor. Di antara sepuluh kali mengendarai sepeda motor itu, lima di antaranya aku mengalami kecelakaan. Empat untuk kecelakaan kecil dan satu untuk kecelakaan besar. Sisanya, aku selamat? Tidak juga, jangan girang dulu. Bagiku musibah yang terjadi di jalanan selain lakalantas adalah ketilang polisi. Ya, sisa selamatku dari kecelakaan lalu lintas, empat kalinya aku ditilang polisi. Ironisnya, di tempat yang sama; simpang lima Purwodadi. Benar-benar tupai yang jatuh di lubang yang sama.

Oh ya, soal yang naik bus, alhamdulillah, kata orang Arab, tidak ada insiden yang berarti untuk diceritakan karena aku lebih sering tidur.

Entah kenapa tiba-tiba aku memilih menulis ini untuk duel dengan Ade Rahma bla bla bla. Bukan, bukan soal mudik pakai motor itu membahayakan. Melainkan soal kematian. Aneh, apa hubungannya mudik dengan kematian? Aku yakin tulisan ini  akan tidak bermutu. Pikirku sih, ketimbang menceritakan akitvitas di rumah, akan sangat membosankan. Pun untuk ukuran mahasiswa seakut aku ini, pulang kampung dan menghuni rumah bukan lagi aktivitas yang berharga justru kadang menjadi beban, “Kok ra lulus-lulus Le?” bisik mamak pelan, namun seperti petir yang mengganjur kepala.

Well kita mulai!

Seseorang tentu bisa mati kapan saja, termasuk aku. Di mana saja dan itu seperti rahasia yang bisa datang dengan tiba-tiba. Akhir-akhir ini, aku selalu kepikiran soal kematian. Teman yang mati, tetangga mati, saudara mati, dan bahkan aku. Aku yang akan mati. Bagaimana kalau tiba-tiba aku mati? Sekarang, besok, lusa, tulat, tubin, seminggu lagi, sebulan lagi atau berikutnya? Bagiku tidak masalah dan tidak cukup membuatku resah karena cepat atau lambat setiap yang bernyawa akan mati. Tetapi aku resah dengan apa atau bagaimana aku akan mati? Ditusuk, ditembak, diracun, dicekik, digantung atau dengan apa? Pula bukan soal betapa sakitnya saat sekarat karena menurutku akan sama rasanya.

Lalu kenapa tiba-tiba memikirkan mati? Mungkin karena sebentar lagi aku pulang kampung. Apa hubungannya mati dengan pulang kampung? JALAN RAYA, man! Kamu musti tahu betapa malaikat maut itu banyak yang bertugas di jalan raya. Maut seolah mengintai di balik pepohonan yang ada pinggir jalan, di aspal-aspal berlubang, dan di antara kantuk serta keteledoran para pengguna jalan.

Di tahun ini usiaku dua puluh tiga, man! Usia yang masih muda untuk rata-rata normal hidup seorang manusia. Njuk ngopo? Bukan apa-apa, hanya saja, rasanya kematian sedang memata-mataiku, di saat aku hendak pulang kampung. Mungkin ada baiknya aku menyalahkan berita, terutama televisi. Mengekspose, betapa kecelakaan terjadi bertubi-tubi dan ngeri. Ada yang diseruduk truk dari belakang, di saat asyik menunggu traffic light menghijau untuk giliran jalan. Ada yang karena salah perhitungan menyalip, oleng, terlindas truk, dan sebagainya. Angka kecelakaan begitu tinggi.

Rupa-rupanya ini yang merasuki bawah sadarku untuk memikir soal kematian. Jalan raya kerap menjadi arenanya walau kadang rumah sakit kerap dijadikan pelampiasan. Dan yang lebih astaga, aku pulang kampung dengan kondisi yang kepalang di kepala.

***
Pagi itu, aku mengendarai sepeda motor tua bikinan Suzuki. Motor yang sudah tiga tahun menemaniku ke mana saja, termasuk saat pulang kampung. Kondisi motor, menurut bengkel, sudah layak jalan. Rem masih cakram, rantai bagus, tekanan ban memenuhi standar, dan suspensi motor juga stabil. Jika sedang kebetulan ingin bersepeda, aku cabut dari Jogja pukul 03.00 dini hari. Pukul lima agar aku bisa menikmati nasi liwet khas Kartasura. Pukul 07.00 sampai Purwodadi dan melahap nasi pecelnya yang lezat buat sarapan. Pukul 10.00, jika perjalanan lancar aku mampir Blora, tahu kupatnya sayang sekali untuk dilewatkan. Pukul 11.00, akhirnya sampailah rumah tercinta. Itu artinya, delapan jam, waktu normal untuk sampai rumah, sudah termasuk istirahat dan makan. Rutenya melewati kurang lebih delapan kota, Klaten, Solo, Sukoharjo, Boyolali, Sragen, Purwodadi, Gerobogan, Blora, dan kota tujuan, Rembang.

Pagi itu, rasanya ada yang aneh, delapan jam dan delapan kota jadi tampak mengerikan. Aku men-stater motor dengan berat hati dan ogah-ogahan, tetapi mengingat SMS yang kukirm sebelumnya ke mamak bahwa aku akan pulang hari ini, menuntutku untuk segera meremas gas dan menginjak perseneling gigi. Sebab, selama menjadi pengurus UKM Ekspresi, bisa merencanakan pulang kampung itu ialah hal yang hampir mustahil. Bahkan terkadang rencana pulang hanya jadi ilusi. Alhasil, janji kepada mamak pun kerap teringkari. Maka tersebutlah manifestasi, jika hanya masalah kekhawatiran yang tidak karuan kepalang itu saja, musti kulawan.

Pagi itu, nasi liwet Kartasura jadi kurang menggoda dan terlewati begitu saja. Teh angetnya tidak lagi terbayangkan seperti oli yang melumasi mesin kepanasan, justru malah terbayangkan seperti darah segar yang terkucur, buket, dan anyir. Sebab sewaktu di Klaten tadi, aku sempat melihat kecelakaan. Lebih tepatnya pascakecelakaan, antara vespa dan entah dengan apa. Aku hanya meilhat kondisi vespa reot di tepi jalan yang remang-remang, di antara kerumunan orang yang mulai menyepi. Aku tidak tahu betul bagaimana nasib pengendara. Namun, pemandangan itu cukup membuatku bergidik, merinding, dan memelankan laju motor.

Pagi itu, aku terus mencoba melawan keadaan yang makin tidak kepalang. Pikiran-pikiran soal mati kerap merajai pikiran. Di Sukoharjo, konsentrasi benar-benar buyar. Antara setir, getaran ban, dan jalan bergelombang, kadang tidak terasai lagi. Aku seperti sedang berada di entah, sampai plang bertuliskan menuju Purwodadi kelihatan, dan sontak membuyarkan lamunan. Satu hal yang terpikirkan, memacu laju motor lebih cepat lagi, karena lebih cepat sampai, lebih baik, pikirku.

Setiba di Gemolong (daerah antara Sragen dan Purwodadi) mentari mulai bangun. Sinarnya menembus kaca helm dan mengenai mukaku yang pucat. Kusingkap kaca helm, angin pagi yang segar membelai licik. Sempat terpikir untuk menepi sebentar, di pingiran areal persawahan, membakar rokok, dan menunggu kereta barang, yang aku yakin akan segera melintas. Bayangan akan lanskap desa yang indah sempat menggiurkan. Tetapi, hasrat ingin segera sampai rumah dan pikiran gelap kadung merajai kepala. Membelenggu otak dan hati sehingga aku menjadi manusia yang kesusu.  Manusia yang kata Puthut EA, termasuk Orang-orang yang Bergegas. Orang-orang yang menjalani hidupnya hanya diperbudak waktu, grusa-grusu. Sampai keindahan yang ditampilkan dunia ini jadi tidak penting.

Begitulah, motor kulaju dengan cepat, 100 Km/jam. Setidaknya lebih cepat dari sebelumnya dan parahnya masih dengan pikiran yang sama. Kepalang, ruet, mblundet, dan bau-bau kematian semakin menyengat. Aku bahkan membayangkan sedang mengirim SMS ke rumah, meminta maaf pada mamak karena masih enggan lulus, meminta maaf pada mantan-mantan pacar lantaran pernah menjadi manusia yang tidak baik dalam hidupnya, kepada pemimpin-pemimpin Eksrpresi waktu itu, Anna, Rhea, Habib, Hasti karena tidak dapat lagi memipin Ekspresi. Membayangkan orang-orang yang akan menangis saat pemakamanku. Ah memikir kematian malah membuatku menjadi sepiritualis.

Tet…teet…teeet………
Bbrrruuakkk…

Sebuah bus pariwisata menyerudukku dari belakang. Setelah aku mendadak rem depan rem belakang, guna menghindari aspal yang berlubang. Tubuhku terasa ringan, terhempas, dan terkapar di pinggiran jalan yang berumput. Dari jarak 6 meteran, aku dapat melihat motorku berada di bawah moncong Bus, mesinnya masih hidup, meraung-meraung, dan roda belakang meronta-ronta. Aku melihat bus mundur sedikit. Sudah ada puluhan orang yang berkerumun, berkasak-kusuk, sebagian lagi menyebut-nyebut, mengangkat motorku, memegang leher dan memutar ke kiri kuncinya. Motorku tenang dengan luka di bagian belakang yang parah, remuk. Serpihan-serpihannya begitu memedihkan, lampu sein, plat motor, body belakang sudah tak karuan wujudnya.

Sementara aku, banyak dicari orang. Sebagian mengira aku di bawah bus, salah satu sebagian menanya dengan tidak percaya, “Gek wau sampeyan mboten?” (yang tadi itu kamu, bukan?) kata bapak-bapak. Aku menghamipiri motor setelah bilang, “Iya.” Berbicara pada sopir bus, saling menyalahkan, berdebat dan berujung “Saya akan bertanggung jawab,” kata sopir yang sebenarnya hanya sebagai upayanya meredam emosi warga.

Motorku di angkut, dinaikkan dalam bus. Tak jauh dari situ, katanya ada bengkel motor. Aku mengambil tawaran itu. Belum menghubungi siapa pun apalagi orang rumah. Pikirku, masalah sudah bisa kuatasi. Nanti saja kukirim SMS, mengabarkan bahwa aku tiba di rumah agak sorean. Berbalut seidikit kebohongan lantaran ada urusan di jalan buat menghindari kerawanan tekanan batin mamakku yang mengidap hipertensi yang akibatnya jika dapat kabar buruk tidak perlu kuceritakan di sini.

Di dalam bus, aku serasa menjadi fokus perhatian penumpang yang mungkin rombongan haji. Sebagian penumpang menatapku sinis, ingin menghujat walau ditahan, mengataiku biang kerok dan ada juga yang mengiba, berbasa-basi menanya keadaanku yang sebenarnya tidak apa-apa, meminta dijelaskan kronologi kejadiannya karena memang dia penumpang yang ada di bagian belakang. Tidak ada luka sedikit pun. Luka sebenarnya adalah pada benda bermesin, semi besi, karet, dan plastik itu. Oh Semhi (nama motorku) what the hell happen with you? I’m so sorry.

Barangkali inilah yang disebut sudah jatuh tertimpa tangga.  Bus berhenti, di areal ladang tebu yang sepi dari manusia. Motorku diturunkan oleh kondektur. Sopir bus, menuntaskan konaknya buat memarahiku, menyalahkanku yang mengerem mendadak. Baiklah, secara sebab-akibat, this is my fault. Upaya membantah, menyangkal namanya ngerem juga mendadak tidak membuat sang sopir surut. Barangkali si sopir sudah terlalu sering menabrak orang, jam terbang di jalanannya tinggi. Kenalan polisinya, katanya juga banyak. Dan bengkel yang dijanjikannya tak lebih hanya gombal si sopir semata.

Aku kalah berdebat, tidak ada ganti rugi hanya selembar uang merah bergambar Soekarno-Hatta, disodorkan kepadaku, yang sebenarnya tidak mengganti kerugian, sama tidak setimpalnya jasa Soekarno-Hatta dinominali seratus ribu. Tapi masih mendingan, daripada Tuanku Imam Bonjol yang cuma dihargai lima ribu, atau bahkan Pattimura yang seribu. Ah hidup ini memang konyol.

Aku lunglai, bus pergi begitu saja, kulihati nomor polisi di belakangnya K 1986 NF, pikirku suatu saat bisa balas dendam. Panik, kecelakaan yang sebenar-benarnya justru kurasakan pada saat itu. Meminta pertolongan pada siapa? Tuhan? Ah tanggung jawab memang sepi.

Aku mengotak-atik telepon genggam, mencari nomor telpon orang yang kukenal. Iseng, menghubungi seseorang yang disebut pacar. Memberi kabar kalau aku kecelakaan, lokasi di Gemolong. Malah menangis, matikan. Berganti Anna, PU Ekspresi waktu itu, sama juga menangis, banyak bertanya, dan panik, matikan.

Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi orang rumah, menerima segala konsekuensi yang akan terjadi. Menjelaskan detil keadaan yang pada dasarnya tidak apa-apa hanya motor rusak berat dan tidak bisa pulang. Mamak bilang, tunggu di situ, cari kantor polisi setempat. Keluarga dari Blora akan menjemput. Tut tut tut…

Melegakan!

***
Usai kecelakaan itu, aku justru bersukur. Bayangan akan kematian menjadi jauh dan lusuh. Akan siap menghadapi kalau memang terbesit lagi. Dan justru yang paling berbahaya ketika aku sibuk memkirkannya. Hal paling menakutkan dalam hidup ialah ketika aku tidak tahu dan menduga-duga. Menyitir kata Inas, ketakutan itu untuk dihadapi bukan untuk dihindari.

Usai kecelakaan yang aku harap terakhir kali, aku semakin mengenal Tuhan. Dia ada, dan benar kata orang, Tuhan adalah apa yang kita pikirkan. Setelah insiden itu aku sudah pulang kampung lagi sebanyak enam kali. Tidak terjadi apa-apa. Kecelakan itu tidak membekas apapun pada tubuhku, hanya di ingatanku. Kejadian yang bertahun silam, aku menulisnya untuk memenuhi tantangan Ade. Jika kamu bertanya, mengapa sih mas, kamu pakai selamat segala? Aku juga tidak tahu, mengapa aku bisa selamat dan motorku tidak? Hanya Tuhan dan sopir bus yang tahu.

*ditulis sambail mendengarkan The Beatles mendendang Across the Universe.

Cerita untuk Kawan Lama

/ Senin, 26 November 2012 /


Berapa tahun tidak bersua bung, menyeruput cairan hitam berampas penuh kafein, meremah kacang kulit, membakar tembakau, dan membincang tentang malam. Ah paling-paling kau sudah lelap meniduri istrimu atau malah meninabobokan anakmu. 
Tidak ada balasan atas SMS yang kukirim itu. Malam semakin larut. Angin menggoyang-goyang pohon sirkaya. Daunnya merayap-rayap atap kamar dari seng. Mirip suara seorang nenek tua yang sedang menyapu pelataran kosan kita saat pagi buta.
Aku masih duduk di kursi kayu sepanjang satu setengah meter itu bung. Kursi yang pernah kau balut cat warna merah yang katamu sesuai warna khas partai politik kebanggaanmu. Katamu sebuah warna yang melambangkan keberanian, ketegasan. Dan seorang pemimpin perlu itu, katamu. 
Iya, kau sangat gemar membincang politik. Bahkan jika aku sampai terkantuk-kantuk kau dengan sergap menyedu kopi dalam gelas dari sisa kopi sebelumnya. Katamu, agar aku tidak megantuk. Maklum kau mahasiswa Sospol, dan aktivis kampus. Sedang aku mahasiwa kupu-kupu di sebuah unversitas kurang terkenal yang basisnya mencetak calon guru.
Aku masih ingat beberapa petuahmu, bung. Jadilah mahasiswa yang berani, berjiwa sosial, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Petuah itu selalu kau sampaikan sebagai obrolan malam kita. Pohon sirkaya itu saksinya, kursi kayu ini mungkin juga.
 
Suaramu lantang, tanganmu menggenggam, jiwamu seakan berkobar, menyala-nyala diantara gelap malam dan lelap orang. Lagu darah juang, kau ingat? Bukankah itu playlist andalanmu. Sampai-sampai kau tidak melirik lagu-lagu lain. Kau bahas satu persatu baitnya. Kau pungkasi maknanya. Garis bawahnya adalah kebobrokan negara ini.
 
Ah aku benar-benar rindu obrolan itu. Tak kudapati lagi disini bung. Sebuah kos baru yang penuh orang-orang tak doyan berbincang sepertimu. Entah kenapa aku sampai mendamba yang demikian. Nyatanya aku sering stres. Berpeluh sendirian mengumpati pemerintah yang bobrok itu.
 
Geram saat kudengar kabar demikian. Tentang korupsi, tentang harga sembako yang naik, tentang penindasan dan sebagainya. Kau dimana bung? Aku tak pernah benar-benar tahu keadanmu. SMS ku juga jarang kau balas. Ku telpon, operator bilang kau reject.
 
Aku sering membayangkan dirimu duduk di senayan bung. Dikursi empuk melingkar yang bikin kantuk setiap orang yang duduk di atasnya. Kau memakai jas, berdasi dan mengendarai mobil jenis camry.
“Disana itu seperti lingkaran setan,” ujarmu sambil mengelap kacamatamu. Apa kau sudah duduk di lingkaran setan disana bung? Siapa yang benar malah akan terbuang. Semoga saja tidak. Lekas, semoga idealismu tak luntur semudah itu. Bukankah kau pernah jadi buronan Orde baru. Katamu hanya karena memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sudahlah bung dimanapun kamu tidak masalah besar bagiku. Harapku, idealismu tak luntur di sana di gendung dengan lingkaran setan itu.

Ha? Idealisme? What he fuck..

jangan bicara soal idealisme
mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
atau berapa dahsyatnya ancaman 
yang membuat kita terpaksa onani

Iwan Fals - Jangan Bicara


aku, malaikat, dan setan

/ /

/1/
ini malam keberapa, tanyaku pada malaikat
entahlah, yang pasti kalian masih bungkam
dan memilih untuk saling munafik, sela setan
diam kau setan, tahu apa kau tentang munafik
malaikat, tapi aku mencintainya
bukankah itu memang watakmu hai bajingan, hardik setan
ia sepertinya juga mencintaimu, hibur malaikat
benarkah, aku juga merasakannya
matanya beda, senyumnya juga mesra
lantas kenapa tidak kau sikat saja, setan bicara
apa kata hatimu, tanya malaikat
hatiku tidak berkata apa-apa, malaikat
kali ini aku benar-benar buta
bimbang, dan takut, begitulah malaikat
basa-basi, sindir setan
laknat kau setan
aku tidak suka basa-basi
begitu pula ia
lalu apa yang kau bimbangkan, malaikat bertanya
keabadian, malaikat
siapa peduli keabadian, setan meragukan
aku, setan terkutuk
memangnya apa yang kau takutkan
aku tidak ingin jauh dengannya
sekarang, besok, lusa, dan selamanya
aku mencintainya malaikat, seperti kau tahu bukan
cinta macam apa ini, pancing setan
dengar malaikat, setan menanyaiku demikian
lantas kujawab apa
cinta monyet, cinta sejati, cinta abadi,
aku tak mengerti definisi cinta
aku merasa nyaman dengannya
malaikat, kau jangan melulu tanya
memang ia bisa apa, bisik setan
kenapa kau diam malaikat
bukankah langit yang mengenalkan aku dengannya
dan bumi telah mempertemukan
dan kau perantaranya
kenapa malaikat, kenapa
barang kali itu hanya kebetulan, ujar setan, pilon
tidak, ini bukan kebetulan
lalu apa yang kau inginkan, tanya malaikat, lagi
aku ingin bersamanya
selamanya, itu saja
tak peduli hubungan kami apa
enak saja kau, gertak setan
aku tak mau kehilangan dia, malaikat
tolong, tolong aku
jaga ia untukku, agar tidak sepi
agar tidak luka sendiri
malaiakat, aku memohon
aku meminta
dan kau setan, aku tak sudi ikut seruanmu
aku pernah tersesat karenamu



Hi Son, Happy Birthday

/ Selasa, 07 Agustus 2012 /
(Suaranya terdengar parau. Berat seperti ada isak tangis yang tertahan. Jauh di seberang sana seseorang kakak sedang menelpon adiknya)
Namanya Chusnil, tetapi seharusnya Husni. Di akte tertulis Husni bukan Chusnil. Entah kenapa belakangan ini nama itu kembali membuatku terusik. Dalam hidup, saya tidak pernah merasa sangat iri kepada siapapun kecuali dengannya. Sejak kecil saya sudah ditakdirkan menjadi adiknya. Selisih umur saya hanya tiga tahun dengannya. Chusnil itulah yang membuat saya selalu kalah dalam hal apapun. Dan saya tidak pernah sempat merasakan yang namanya “ngalah”.
Ketika SMP saya baru menyadari sebabnya. Chusnil memang lebih tampan dibanding saya. Hidungnya mancung hidung saya ambles. Rambutnya ikal. Rambut saya dangkal dengan dahi yang lebar. Kulitnya putih bersih dan kulit saya sawo matang yang kematangan. Kami beda hampir dalam semuanya. Dia terdidik menjadi penurut. Saya pembangkang. Dia memilih menjadi anak yang baik bahkan saya samar antara yang baik dan buruk. Chusnil memang mendapat lebih dibanding saya.
(Malam itu benar-benar hanya ada rindu tetapi abu-abu. Dari seorang adik yang selama hidup hampir tidak pernah merasa punya kakak)
Selepas SMA dia ditawari kuliah oleh ibu-bapak. Sedang saya terancam cukup di SMP. Secara akademik saya memang kurang berkualitas. Rapor saya hampir tidak pernah lolos dari angka merah. Sedang rapor dia yang sudah pasti di perebutkan ibu-bapak nihil dari angka merah. Saya pernah tidak naik kelas. Itu tidak terlalu mengejutkan bagi ibu-bapak. Sebab bebarengan dengan itu rangking Chusnil merosot. Dari pertama menjadi juara ketiga. Kami berdua pun mendapat hukuman. Nitendo dinonaktifkan bapak. Pikir bapak mesin game itu sangat berpengaruh pada prestasi. Padahal saya jarang sekali bisa main nitendo. Sebab Chusnil dan teman-temannya lebih dulu memakainya. “Anak kecil bisa apa? Nonton saja. Tak ajari,” ujar dia dan mengambil alih paksa sticknya.  Kalau sudah seperti itu, saya harus mundur melihati dia dan teman-temannya main mortal combat dengan hati yang ciut.
Tetapi Chusnil masih bisa dapat hadiah. Sebuah komputer yang belum level pantium. Itu pun dari hasil kesepakatan antara bapak dengan dia sebelumnya. Jika juara pertama akan dibelikan motor KTM. Juara kedua diajak ke Bonbin Surabaya plus komputer. Dan jika juara ketiga hanya komputer itulah jadi miliknya. Saya, tidak perlu repot-repot bikin pemetaan macam begitu. Karena memang tidak perlu. Hanya buang-buang waktu untuk sebuah ketidakmungkinan menyabet gelar juara.
(Dua tahun berpisah malam itu kali awal kakak mengkhususkan menelponku. Kali pertama berbicara serius saat kami sudah sama-sama merasa dewasa. Kurang begitu laki-laki rasanya jika ada tangis)
Masa SD saya tandai masa paling kelabu. Saya kerap dibohongi oleh ibu dan bapak. Pada suatu malam saya diminta menjaga rumah. Sedang ibu dan bapak bilang mau pergi ke dokter mengantarkan Chusnil berobat mata. Setahu saya mata Chusnil memang bermasalah. Dia terkena gangguan penglihatan dengan minus 1,5 sejak SMP. Yang mencurigakan, sepulang dari dokter ibu membawa tahu petis, makanan kesukaan Chusnil. Dalam posisi kelas 3 SD, saya sudah tahu kalau tahu petis seperti itu hanya ada di pasar malam. Saya memang kurang suka tahu petis. Saya lebih suka martabak telur yang juga di jual di pasar malam. Saya hanya iri kenapa Chusnil diajak ke pasar malam sedangkan saya tidak. Saya cukup berperasangka baik waktu itu. Barangkali ini memang masih dalam rangka hukuman.
Dari segi ukuran tubuh kami berdua memang relatif sama. Oleh karena itu baju-baju kami pun sama. Tetapi lebih dari pada itu ada hal-hal yang disembunyikan ibu-bapak dari saya. Saya tidak pernah tahu kenapa Chusnil selalu punya jam tangan dan saya tidak. Dia punya sepeda BMX dan saya hanya diperkenankan  mbonceng dia walau itu sangat jarang terjadi. Saya juga tahu, setiap senin dan kamis, sebelum sekolah Chusnil mampir dulu ke pasar buat ngambil jajanan dari ibu. Dan pastilah Rudi tahu kalau setiap senin dan kamis saya harus mbonceng dia ke sekolah lantaran Chusnil ke pasar.
(Ia mengabarkan kepedihan. Kepedihan yang tidak mampu membuat pendendam tega menertawakan lawan. Tidak, ia bukan lawan. Ia kakaku. Saudara sekandungku yang menempati rahim ibuku sebelum aku)
Di tahun yang sama betapa saya baru menyadari ternyata Chusnil adalah anak yang dinantikan kehadirannya. Terlebih ibu saya. Bapak saya seorang duda dengan tiga anak. Dia mengawini ibu saya yang juga janda tetapi belum beranak. Kelahiran Chusnil begitu dinanti karena dianggap bisa menyatukan hubungan ibu dan bapak. Kendati ibu juga kepingin punya anak dari rahimnya sendiri. Sedangkan mungkin kelahiran saya sudahlah tidak diharap. Hanya memperbanyak anak. Dan itulah kenapa saya menjadi yang terakhir di keluarga. Bapak saya merasa, isi rumah sudah bebal dengan anak.
Selepas SMA, Chusnil menampik tawaran buat kuliah. Tentu ibu dan bapak semakin berbangga hati lantaran dia memutuskan untuk bekerja walau serabutan. Dia seperti patut menjadi contoh panutan bagi remaja seusianya, tetangga, dan juga sanak keluarga yang lain. Dan selama ini dia memang telah mendapatkannya. Menginjak saya SMA akhirnya dibolehkan melanjutkan sekolah Chusnil sudah setahun di Batam. Dia pun cepat peroleh pekerjaan. Ibu dan bapak tak ubahnya kehilangan sepuluh anak. Satu-satunya hal paling menggembirakan selama itu adalah saat Chusnil menelpon mereka. Itu jadi pemandangan paling membosankan selama saya SMA.
(Jauh disana, ia bilang bahwa pacarnya hamil dan minta dinikahi. Sedangkan disini ibu-bapak masih begitu mengharap jerih payah hasil keringatnya yang bisa dibanggakan. Kepada tetangga dan juga kerabat lainnya)
Dua tahun sudah Chusnil di Batam. Tidak ada angin tidak hujan tiba-tiba dia bilang mau menikah. Ibu menjadi orang yang paling tidak setuju. Dan saya hanya bisa mengkerutkan dahi saya yang makin lebar saja. Bapak hanya berusaha memberi pengertian kepada ibu. Sebulan setelah mengabari akan menikah, Chusnil pulang ke rumah bersama calon istri dan keluarganya. Pikir saya yang masih SMA, untuk laki-laki seganteng Chusnil mau menikahi perempuan tonggos begitu. Tidak. Rupa gadis itu memang tidak cantik. Pikir saya yang selalu tahu mantan-mantan pacar Chusnil dialah yang paling jelek. Chusnil akhirnya tetap menikah diantara kontroversi bapak dan ibu.
Walau saya tidak begitu dekat dengan ibu, tetapi saya tahu ibu sebenarnya tidak begitu setuju Chusnil menikah dulu. Ibu masih mengharap lebih pada masa depan anak tercintanya. Anak yang selama hidupnya tidak pernah membangkang. Tetapi ibu tetaplah ibu. Dia harus sadar bahwa Chusnil memang sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidupnya. Tanggal dan tempat pernikahan sudah ditentukan. Semuanya akan berlangsung di Batam. Seorang ibu yang kecewa akan keputusan anaknya dan tidak pernah tahu mengapa anaknya membelot, ditambah seorang bapak yang tidak tahu harus berbuat apa, pasrah. Setahu saya keduanya tidak datang di hari pernikahan Chusnil di sana.
Selepas SMA, saya putuskan untuk merantau. Apapun yang terjadi saya harus keluar dari kampung ini. Diam-diam saya mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di berbagai perguruan negeri yang mau menerima. Tanpa menggubris ibu-bapak, saya diterima dan kuliah di Yogyakarta. Saya tidak begitu merasa berdosa pada mereka. Sejak dari kecil saya terbiasa membangkang. Saya kerap diperlihatkan kebohongan-kebohongan yang tersamar; dipercundangi. Saya memang tidak didik menjadi baik. Saya tidak diharapkan ketimbang Chusnil. Tetapi saya merasa menjadi lebih baik daripada Chusnil sekarang. Dia yang diharapkan akhirnya membangkang. Dan saya yang tidak pernah diharapkan rupanya tetap sama di mata ibu dan bapak. Buruk.
(Aku diminta merahasiakan. Ia bilang baru aku yang dikabari. Barangkali ini memang tugas dari adik untuk selalu merahasiakan kesalahan kakaknya. Juga pesan dari kakak untuk tidak meniru perbuatannya)
Selama merantau, setiap kali pulang perlakuan ibu tetaplah sama. Apalagi bapak. Buletin, majalah, buku, dan hasil karya saya, rupanya tidak mampu membuka mata ibu dan bapak saya yang selama ini memandang sebelah kepada saya. Tetangga dan kerabat pun masih sama. Setiap kali bertandang atau berjumpa ada saja yang  mengira saya adalah Chusnil. Saya sering merasa bahwa saya tidak pernah ada di keluarga ini. Atau jangan-jangan memang tidak pernah ada. Saya adalah ilusi. Pula, kalau kebetulan membantu ibu saya di pasar, masih saja ada pertanyaan. “Lhoh Bulek ini siapa? Yang dulu ke Batam itu ya?” Whatever, i do’nt care!
Sudah lima tahun saya di kota ini. Selama itu pula saya tidak pernah mendengar kabar Chusnil lagi. Kecuali dari ibu-bapak dan saat saya pulang. Anaknya sudah dua, katanya. Sedang Chusnil nampaknya mulai lupa saja dengan saya. Kendati tiba-tiba malam ini saya mengingatnya. Saya ingin menyapanya. Selamat malam. Selamat ulang tahun. Rahasiamu tetaplah aman. Kamu akan jadi baik selamanya di mata ibu juga bapak. Maaf telah mengecewakanmu. Serta menuduhmu yang bukan-bukan.
(Setua apapun saya nanti, rasanya saya akan tetap menjadi adik. Adik tidak akan pernah jadi kakak. Dan rahasia tetaplah rahasia. Meski yang meminta menjaganya terkadang sudah lupa)

Sangkalan atas Nisrina Muthahari

/ Jumat, 03 Agustus 2012 /

Cek Go, sebutanmu. Berasal dari kata eceng gondok. Tumbuhan yang hidup di air yang konon dikategorikan sebagai parasit. Julukan itu kamu dapat lantaran kamu mirip sekali dengn karkater eceng gondok yang suka ngikut kemana-mana, asal dapat traktiran. Itu terjadi di komunitas kecil di Ekspresi, khususnya pada divisi redaksi –yang menjadi pihak merugi-. Dan kamu pun nampaknya menikmati julukan itu. Cukup  menjadi sarat register bahasa kan? Yang arbriter (semena-semena) dan konvensional (disepakati bersama).
***
Kritikanmu tempo hari atas tulisan pada blog ini, “Blog isine gur curhatan” rupanya saya perlu menanggapi. Jika disemantikkan secara makro linguistik, dari baris kalimat yang kamu utarakan itu, muatannya cukup berpengaruh lho. Soal kebenaran anggapan, apakah blog saya yang memang isinya cuma curhat? Dan soal istilah “gur curhatan” yang seolah-olah memaknai curhatan itu tidak ada gunanya. Sampah.
Pertama. Terlepas dari ketidaktahuan saya, mengapa tulisan-tulisan itu sampai dibilang curhat? Sebenarnya metode apa yang telah kamu pakai buat menaganalisisnya? Semiotikkah, pendekatan ekspresif, resepsi pembaca, atau entah. Tetapi kemungkinan karena ini soal saya sebagai pengarangnya dan kamu sebagai pembacanya. Besar kemungkinan, teori kedua dan ketiga yang kamu pakai untuk menjustufikasi blog ini.
Saya coba-coba buka buku lama, soal kaji mengkaji sastra. Akhirnya pendapat yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren (1990) yang saya pungut untuk memungkasi yang soal pendekatan ekspresif tadi; studi kaji karya sastra ynag menitikberatkan pada pengarang sebagai pribadi yang berkaitan dengan proses kreatif. Mengkaji karya dengan pendekatan apapun, nampaknya memang tidak lepas sepenuhnya dari struktur karya tersebut. Memang, sebagian besar tulisan-tulisan disana memakai point of view “aku” (sudut pandang ke-aku-an). Namun bukan berarti, “aku” disana adalah sejati-jatinya pengarang. Ini hanya soal sudut pandang, sayang. 
Lantas dalam pengertian yang tersirat, bagaimana analisa psikologi pengarang dapat kamu gunakan untuk menginterprestasi dan menilai tulisan ini? Kendati memang dalam menciptakan karya sastra, terkadang ada teori psikologi tertentu yang dimuat pengarang secara sadar atau samar-samar. Jika teori tersebut ternyata cocok untuk menjelaskan tokoh-tokoh dan situasi dalam cerita, apa dasarmu? Karena kamu teman dekatku dan mengerti kebenaran serta latar belakang kemiripan cerita? Kok rasanya internal sekali, ya. Sifat-sifat manusia dalam karya sastra relatif imajiner, lho. Walau di dalam mengambarkan karakter dan jiwa pengarang harus menjadikan manusia hidup di alam nyata sebagai model di dalam penciptaannya.
Kedua. Mungkin saja pendekatan resepsi pembaca yang kamu pakai. Tetapi itupun belum cukup, kataku. Biar saya klasifikasikan dulu jenis resepsi ini agar tidak terkesan serampangan seorang pembaca dalam meresepsi. Pembaca yang merespsi secara aktif dan pembaca yang mersepsi secara pasif.  Secara aktif itu semisal kamu, yang memberi kritik, ulasan, komentar, resensi, atau interkstualitas. Lainnya resepsi pembaca pasif yang tidak bisa diketahui karena mengacu pada bagaimana seorang pembaca dapat memahami suatu karya dan menemukan hakikat estetika di dalamnya (Junus, 1986). Nah, kamu, sebagai pembaca aktif yang telah menilai pastinya punya dasar atas tanggapanmu kan?
Well. Anggap saja itu memang resepsi dari hasil bacaanmu. Pertanyaan berikutnya, jika itu curhatan, njuk ngopo? Seperti di awal, kata tugas yang kamu pakai adalah “gur” (hanya) yang menempatkan posisi tulisan curhat seolah-olah inferior. Begini, kira-kira. Kamu tahu seorang Fidel Castro kan?
Dalam buku berjudul Hari-hari Terakhir Che Guevara, Castro yang juga teman dekat Che, memungkasi sebuah pengantar yang apik. Buku ini, menurut saya terselamatkan kualitasnya lantaran ada secarik pengantar dari Fidel Castro. Di pengantar itu Castro sangatlah berterimakasih kepada Che Guevara atas kebiasaan Che, menuangkan segala kejadian dalam buku kecil. Segala apa yang menceritakan keadaan di tempat pembuangan dituliskan Che dengan sangat rinci. Castro memang tidak memakai istilah “curhatan” untuk memaknai kebiasaan Che tersebut.
Catatan ini bukan dengan tidak sengaja dituliskan oleh Che. Catatan-catatan ini dijadikannya sebagai sebuah panduan, evaluasi konstan terhadap segala kejadian, situasi, dan orang-orang yang terlibat. Catatan ini yang juga membuatnya lebih mampu mengekspresi semangatnya yang membaja, analisis namun diselipi humor-humor yang manis, dan kadang kala sisi kemanusian dari seseorang pemimpin detasemen gerilya juga ia tulis. Semuanya ditulis secara serius sehingga membantu suatu keterkaitan yang tidak terputus dari awal hingga akhir. 
Tetapi tahulah kamu dampaknya, dari tulisan-tulisan kecil seperti itu kita jadi mengerti siapa Che dan seperti apa kiprahnya. Barangkali soal teladan tergantung pembaca mau menirunya atau tidak, tetapi soal resepsi aktif, saya kira tidak ada yang menyangkal kebiasan Che menulis setiap hal yang terjadi semasa ia berjuang.
Tulisan-tulisan Che yang seperti itu sering kubayangkan di jaman sekarang sebagai bentuk ekspresi kebutuhan manusia untuk berbagi pengalaman pada sebuah tulisan. Andai saja ada situs sosial macam blogspot, twitter atau facebook yang bisa diakses waktu itu, tidak menutup kemungkinan Che juga akan update status atau nge-blog setiap hari, soal bulan-bulan terakhir hidupnya di Bolivia yang sungguh heroik itu, mungkin!
Adalagi R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang. Saya menilai ini juga bentuk semacam “curhatan” seorang perempuan agung lewat surat-menyurat kepada nona-nona Belanda. Tentulah “curhatan” disini bukan semata berisi keluhan yang mengharu-biru melainkan pemikiran-pemikiran Kartini perihal nasib wanita-wainta Indonesia pada masanya. Jadi apa kamu masih menganggap “gur curhatan”? sebaiknya mulai cari definisi kata “curhat” yang tepat, sayang.
***
Belakangan ini aku dengar istilah Cek Go kamu selewengkan menjadi Cek Gu. Sapaan khusus dalam serial kartun Upin dan Ipin yang ditujukan pada ibu guru. Seorang pengajar yang bijaksana dan rendah hati. Itu lantaran kamu menjadi PU Ekspresi. Dan anehnya anak-anak baru yang tidak mengerti terminologinya manggut-manggut saja. Dalam kasus ini, bukan saja itu nihil maksud. Penggeseran dari istilah Cek Go menjadi Cek Gu. Tentu kamu ingin memperbaiki citra kamu apalagi posisimu waktu itu sebagai pimpinan utama.

 

Memang tidak Berjudul

/ /
Tidur membuatmu tampak buruk. Bunyi dengkur dengan mulut menganga benar-benar melenyapkan ketampananmu. Orang bilang, kehidupan seseorang bisa dilihat dari cara tidurnya. Belum lagi liur yang kadang kali menderas yang buru-buru kau sesap dan lap saat tidurmu terusik. Seolah-olah kau orang yang sangat melarat. Aku benar-benar kurang menyukaimu saat tidur. Tetapi itu tidak elaknya kau lakukan sepanjang hari saat menyambangi kamarku. Aku memang teman tidurmu, katamu. Teman tidur yang sebenarnya cuma istilah. Nyatanya kita tidak pernah sekalipun tidur berdua. Kalaupun bersama, satu diantara kita, ada yang tidak tidur atau bahkan kita tidak tidur sama sekali sepanjang hari. Aku sebenarnya menikmati waktu saat kau tidak tidur. Aku bisa melihati senyummu yang manis dan lesung pipit yang samar-samar. Kau akan membaca dan menulis. Aku menonton tivi atau memetak-metak selular saja. Tentu di sela-sela itu ada kopi dan rokok yang mempertemukan detak kesibukan kita.
Aku suka saat mengetahuimu sudah bangun tidur. Biasanya aku menwarkan ciuman menyambut bangunmu. Namun pasti kau buru-buru menolak dan bilang bahwa mulutmu sedang bau. Lalu kau memilih menjerang air panas dalam gelas sembari memulai pembicaraan dengan nada yang serius. Mirip aktivis yang sedang berdiskusi. Untuk menikmati adegan itu, kutanggalkan selularku dan kupelankan volume tivi. Aku memang tidak pernah tahu soal apa bicaramu itu. Entah kutipan teori dari buku entah dari perbincanganmu dengan orang-orang di luar sana atau sekelibat fenomena dari tivi yang kau komentari panjang lebar. Hidupmu memang tidak pernah santai sepertinya.  Setiap hal kau analisis sampai-sampai setiap tindakan seolah punya motif yang negatif. Kau sinis, dan justru itu kau terlihat seksi bagiku.
Sepanjang hidupuku ada dua jenis laki-laki yang membuatku tertarik dan enggan menolak saat aku didekati. Jenis pertama itu sepertimu, serius, cerdas, pantang menyerah, dan tidak anggap perempuan itu cuma teman ranjang dan melulu soal perut. Atau tipe kedua walau akhirnya kerap bikin bosan. Penyayang, perhatian, pengertian, dan begitu mempermasalahkan resiko. Tetapi aku menikmatinya. Dan disitulah terkadang laki-laki tampak bodoh dipelukan perempuan sepertiku. Barangkali, memang terlalu merendahkan bila kusebut kau mendakatiku. Memang tidak, keadaan yang membuat kita tanpa sengaja mendekat. Kebetulan saja, aku orang yang tidak begitu mempermasalahkan hubungan laki-laki dan perempuan. Katamu, di dunia yang masih patriarki begini hubungan laki-laki perempuan begitu dipermasalahkan. Aku bisa saja menjelma sebagai ancaman yang memotong kesucian laki-laki. Layaknya Hawa yang menjerumuskan Adam lewat bujuk rayunya. Atau bahkan aku mahluk yang begitu lemah yang pantas dikasihani layaknya cerita Cinderalla dan segenrenya. Tidak, kau ataupun aku tidak permasalahkan itu.
Namun sudah berbulan-bulan kau tidak menyambangiku lagi. Terakhir kau menghubungiku saat hendak melayap ke ibu kota sana. Dari perkataanmu sepertinya kau sedang memperoleh pekerjaan.  Untuk kurun waktu satu sampai dua minggu saja buat mengisi liburan. Pikirku, kenapa harus kesana? Apa pekerjaan cuma ada di ibu kota? Seolah-olah kehidupan hanya ada di ibu kota sana. Padahal kau pernah bilang, orang yang bisa hidup disana itu cuma ada dua macam. Orang yang mengaku-ngaku paling paham republik dan orang yang tega memakan sesamanya. Tetapi itu tidak kau, jika keingnanmu  bisa dipangkas. Pergilah!
Sebenarnya aku tidak begitu merasa kehilanganmu. Ada banyak lelaki di sekitarku. Si Valin yang setia dan punya pekerti yang baik. Juga si Bayu yang akhir-akhir ini mendekatiku atau juga temanmu, Mas Tohari yang sesekali mengajakku keluar saat situasi begitu penat. Aku juga tidak terlalu merindukanmu. Yang kusesalkan sebenarnya kenapa kau begitu saja melupakanku? Padahal kau bilang yang paling menjijikkan dari sebuah hubungan bukanlah perpisahan melainkan jika keduanya saling melupakan. Sebenarnya ini sebuah surat maka saja tidak berjudul. Aku hanya ingin mengalir dan aku tidak ingin sebuah judul membatasi aliran ini. Kendati aku tidak tahu kemanakah harus kukirim surat ini. Sekian saja. Aku tidak mau dianggap sebagai manusia yang kalah. Manusia yang kesepian dan tidak bisa berdamai dengan kenyataan sehingga terus-menerus mengais kenangan. Selamat malam!
  

Variasi Kematian #3

/ Jumat, 20 Juli 2012 /

Aku sekarat. Akhirnya, setelah menunggu waktu kematian yang ternyata datang lebih cepat dari perkiraan. Mulutku berbusa dengan bau apple wine yang kutenggak lima belas menit lalu. Aku tidak menyangka alkohol tolol dan murahan itu yang akan membukakan pintu mautku. Tetapi aku belum mati. Aku hanya tidak bergerak. Terbaring dan nyaris tidak bernafas. Dadaku sangat sesak.
Aku masih limbung dan linglung. Antara aku akan mati dengan variasi kematian yang mana; pertama atau yang kedua? Sebuah cerita pendek soal variasi kematian yang habis kubaca dari Agus Noor begitu mempengaruhiku dalam kesekaratanku. Dia menuliskan hanya habis di bilangan kedua.
Dari ceritanya sebenarnya aku ingin pilih variasi kematian yang pertama. Mati dengan begitu tenang dan bisa direncanakan. Mempersiapkan segalanya sehingga aku bisa mati  dalam keadaan yang menyenangkan. Aku ingin jasadku nanti dalam keadaan tersenyum. Masih tetap tampan dan tidak kurang satu apapun dari anggota tubuhku.
Tidak ada sesal yang terbawa. Pun luka yang terbiarkan menganga. Kehormatan, cinta, dan kasih sayang kita tidak berubah. Berbalik lesat dalam satu penghinaan yang mengganas. Atau jerit tangis orang yang malah merajang duka. Aku bisa pilih dimana tempat aku akan mati. Mengubur jasadku nanti. Aku tinggal berbaring tanpa merasai sakit dicabik-cabik malaikat. Aku juga bisa memakai setelan baju yang sopan saat akan menghadap Tuhan. Dan setelah aku mati orang-orang tidak perlu menangisiku.
Aku pernah bilang padamu bukan? Suatu saat kita akan mengerti. Perih dan pedih ini, hanyalah mimpi masa lalu yang secepatanya akan kita lupakan. Berlalu seperti biasanya, dan Tuhan dengan kuasanya hanya akan menyebut itu sebagai sebuah sepi. Benar-benar variasi mati yang kuidam-idamkan. Aku tidak akan menyesal karena pernah hidup.
Sedangkan variasi kedua adalah pilihan jika variasi yang pertama tidak bisa aku gagahi. Anggap saja variasi yang kedua ini takdir dari sang empuNya kematian. Takdir mana kenal pilihan? Mati variasi kedua ini mati pada umumnya. Aku tidak perlu tahu kapan dan bagaimana aku akan mati. Biar Tuhan saja yang tahu. Semacam rahasia mungkin. Dan rahasia inilah yang seolah membuat hidup manusia ada batasnya. Sampai tiba waktunya nanti malaikat akan mendatangiku. Dengan wujud yang bagaimanapun dan dalam keadaan yang seperti apapun. Aku harus terima.
Aku bisa saja sekarat dan mati dalam keadaan menyesal. Aku menyesal kalau selama ini, waktu kita telah habis buat cari pembelaan sendiri-sendiri. Untuk sejuta alibi yang datang setiap hari. Argumenmu yang menyebabku jadi beranggapan bahwa hidup memang harus berpikir. Lantaran hidup itu rumit. Sedangkan mencari, menjadi sebuah teori yang kamu lupakan dari ingatan-ingatan yang terus dipaksa untuk tangguh. Sampai kita pada kahirnya saling tidak acuh.
Mati dalam variasi kedua ini bisa datang dari arah manapun. Bisa saja tubuhku hancur. Darah dan gumpalan daging tercecer di jalanan. Lalu orang-orang yang tidak pernah kukenal menutupi jasadku yang tidak utuh lagi, dengan dedaunan dan koran-koran bekas. Sementara lalat berkcibak di genangan darahku yang sudah bercampur tanah dan debu jalanan.
Aku tidak pernah lagi sempat bertanya padamu. Apakah setiap hubungan harus dinamai? Tidak cukupkah kita membuatnya bisu? Merangkai kesepakatan yang tidak perlu ditahu orang? Tidak cukupkah hanya kita berdua saja yang menikmati?
Kenapa tidak ada surat lagi? Tidak ada kabar? Tidak ada senyum luka? Tidak ada tatap yang sinis? Tidak ada sentuhan? Seharusnya tidak begini bukan? Atau memang seharusnya begini? Semestinya tidak seperti ini bukan? Atau memang semestinya seperti ini?
Tidak. Aku tidak tahu. Tidak akan ada jawaban karena aku tidak sempat bertanya. Dan orang-orang di jalanan begitu sibuk berbisik atas ketragisan matiku.
Atau bisa saja aku akan mati karena sakit yang berkepanjangan. Terbaring tidak berdaya, mati, dan sekarat di rumah sakit dengan tubuh yang digerogoti penyakit. Koyor, hanya sisa tulang dan kulit. Rambut yang meranggas dan rontok. Atau kulit yang lisut dan kasap seolah hidup yang selama ini terjalani begitu sia-sia. Dan aku akan bertanya kepadamu karena ternyata maut masih memberiku kesempatan.
Tidak bisakah kita mengulangnya lagi kehidupan kita yang kemarin? Memulai dari awal dan memeprbaiki laku kita? Maka aku akan bangkit dari sekarat ini. Kita tinggalkan rumah orang sakit ini. Aku akan lawan yang namanya maut. Aku usir jauh-jauh malaikat maut yang menjelma bangis itu. Baiklah kalau memang itu maumu. Aku akan turuti. Mari kita maknai saja hubungan ini. Tetapi  dengan yang sederhana saja. Dengan senyum saja. Cukup dalam tiap lekuk kening, bibir, dan leher kita tanpa merambah ke yang lain. Bagiamana?
Kenapa kamu masih diam disana? Oh lihatlah aku yang sedang sekarat begini. Dengan lengan yang tertusuk jarum dan selang mengalir dari botol plastik. Beginilah caraku makan selama ini. Aku bahkan sudah lupa seperti apa rasa manis, asam, dan asin. Menyedihkan bukan? Aku tidak mampu melakukan apapun. Sepanjang hari hanya mengingatmu dengan sisa-sisa yang tertinggal. Bau tubuhmu, hingar suaramu, dan degup nafasmu. Jawabanmu masihlah tidak? Sama halnya. Sia-sia. Aku mati dengan harapan yang menggantung.
Lalu orang-orang dekat dengan gampangnya bersedih. Menangis meraung-raung seoalah mereka kehilangan. Belum lagi, namaku akan dibicarakan banyak orang. Yang dekat akan bilang semasa hidupku katanya aku orang baik. Padahal aku telah dipercundangi. Hartaku diperebutkan. Belum lagi berbagai media menyebutkan. Telah meniggal dunia dengan tenang... Anjing, bagaimana ia tahu kalau aku mati dengan tenang? Sungguh aku tidak ingin mati yang begini.
Tetapi, bagaimana kalau aku menciptakan sendiri variasi kematian yang ketiga. Kendati tidak bisa memilih yang pertama dan enggan sepenuhnya merasai yang kedua? Mati dengan variasi ketiga ini barangkali percampuran dari pertama dan kedua. Aku rasai sendiri saat sekarat macam begini. Rasa sakit yang masih bisa kusetir hingga perlahan menjadi nikmat lantaran mengenangmu. Ketika selusur urat leherku seolah terjerat tambang yang kuat tiba-tiba ringan dan terjuntai dengan tenang dan tubuhku melayang akhirnya.
Aku masih sempat berkaca. Tersadar kalau ternyata malam begitu kerap mengumpan janji. Sampai-sampai malam itu kita berciuman begitu lama dan hangat. Kita tergetar kiendati lupa menyebut siapa dan apa kita. Kamu begitu saja terpikat dan aku terjerat.
Maka sudah sepantasnya aku meminta maaf atas keterasingan-keterasingan yang kita perbuat. Memohon ampun untuk kealpaan janji-janji dan aku akan siap buat mencumbui malam dengan impian-impian yang mengabur. Bersama sesak nafas yang sebentar lagi amblas. Aku tidak perlu menghabiskan pikir. Kenapa penyesalan selau di taruh di akhir.
Bisakah kamu agak mendekat? Ayolah, aku ingin begitu lelap detik ini. Tidak kurang tidak lebih. Bolehkah? Aku ingin lelap yang sempurna. Biar kawin denganmu jadi mimpi saja. Terimaksih telah mencitaiku dengan keadaan. Walau itu pahit tapi setidaknya kamu jujur dan tidak mempercundangki habis-habisan.
Aku lebih benci pada orang yang bilang cinta karena ketiadaan. Apanya yang mau dicintai? Sedang tidak ada apa-apa. Tidak ada ketampanan, kekayaan, kepandaian. Ah sudahlah. Sebenarnya aku ingin bercerita banyak hal, soal variasi kematian yang ketiga ini. Variasi kematian yang paling aku suka. Tapi apa lacur, aku sudah mau mati. Aku mati dulu ya. Selamat pagi. Aku mati setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada diriku sendiri.

Wahai maut. Bersediakah kau mengambil sunyiku sekarang? Silakan.

Sepasang Mata yang Lentik

/ Sabtu, 14 Juli 2012 /
Sepasang mata yang lentik itu seolah masih tinggal di sudut kamarku. Terkadang aku mendapatinya saat pagi masih begitu buta, saat mengaduk kopi, mencari korek api atau terkadang sepasang mata yang lentik itu mengintip di balik kepulan asap rokok yang meyembul dari mulutku. Sepasang mata itu juga ada di saat aku memutar lagu-lagu sendu, membaca buku-buku tertentu, menulis, dan saat menggaruk senar-senar gitarku.
Sepasang mata itu kudapati beberapa bulan lalu. Dari tumpukan sampah yang membusuk dan di tepian jalan yang lengang; sepasang mata yang sengaja dibuang pemiliknya. Aku suka pada sepasang mata itu bukan lantaran keindahannya. Aku seperti menemukan gambaran hidup yang senyata-nyatanya hidup saat melihat sepasang mata itu. Kesenduan, keberanian, kasih sayang, keegoisan ada disana. Sepasang mata yang cukup membuat bibirku ketam dan gagu saat mencumbunya. Tapi sepasang mata itulah yang lanjur membuatku jatuh cinta.
Aku tidak tahu mengapa bisa begitu buru-buru jatuh cinta pada sepasang mata itu. Mungkin benar katanya, aku telah mengidap sakit jiwa. Sakit jiwa yang penderitanya mudah sekali melebuhkan cinta. 
"Sepertinya kamu harus segera menikah deh?"
"Kenapa?"
"Kamu kayaknya sudah tidak bisa hidup sendiri," katanya.
"Hemm..."
Aku kecanduan dengan sepasang mata itu bukan lantaran aku tidak bisa hidup sendirian. Menikmati kopi sendirian, merokok sendirian, mendengarkan lagu-lagu sendirian atau bahkan tidur sendirian. Ini semata-mata bukan soal kecamuk ranjang, berkucindan, berdialog dengan bahasa-bahasa yang aneh, menirukan karakter-karakter tokoh terkenal, dan bercinta. Semata kugandrungi sepasang mata itu lantaran aku seolah menemukan sesuatu yang pernah terenggut oleh waktu. Sepasang mata yang saat kutatap, begitu hangat. Rasa rindu masa kanak-kanak nan menentramkan kembali kurasai. 

Hai sepasang mata, apa kabarmu?


Tiga Hari yang Enggan Lupa

/ Senin, 09 Juli 2012 /
Kamu tahu film, The Wedding Date? DIbintangi oleh aktor ganteng Dermot Mulroney dan aktris menggemaskan Debra Messing? Hahaha kurang lazim nampaknya jika aku bilang merasai persis peran Dermot Mulroney disana. Tapi tiada apalah, setidaknya aku ingin bilang padamu seperti itu posisiku tiga hari itu. Jika nanti tulisanku kurang begitu mengabarkan. Barangkali lebih guna kamu simaklah saja film itu. Kendati alur dan ceritanya memang lain dan tidak sama.  
Baik kumulai di hari pertama. Hari dimana aku mulai melibatkan diri kembali pada kehidupanmu; keluargamu. Sebenarnya berat, untuk mengiyakan ajakanmu sebelumnya. Kamu tahu, aku orang yang sulit berdamai dengan masa lalu. Empirisku kerap benar merasai soal masa lalu. Masa lalu bagiku barang usang yang lantak. Sebaik-baiknya orang di masa lalu tidak lebih dari basa-basi di muka saja. Bukankah di awal perpisahan kamu juga seperti itu? Usai putus dengan sisa-sisa perasaan yang terkais masih memberi kabar. Mengobrol luwes, bercerita soal awal berjumpa. Mengajak ngopi, mengorek-ngorek lembar peristiwa dan kenangan, menyenggol-nyenggol kebiasaan yang kerap dilakukan bersama dan sebagainya dan sebagainya. Tapi galib sudah, usai itu yang barang tidak ada sebulan hilang kabar, melenyap dan menggondol berjuta-juta pengharap. Sama seperti yang lainnya. Lusuh dan rombeng.
Dua bulan lebih kita berpisah. Rata-rata saja seminggu  di bulan pertama kamu masih sering tanya kabar. Lalu selebihnya kamu menghilang dari peredaran dan kita saling diam. Lalu berikutnya, di bulan ketiga yang sedang melangkah kamu kembali memberi sinyal. Entahlah, apa yang terjadi padamu. Barangkali kamu begitu terluka, atau barangkali kamu masih memelihara rasa. Aku masih ingat betul suaramu di sebarang sana waktu mengiyakan keputusan itu via telepon. "Tapi dengan satu sarat ya, kita harus tetap menjaga hubungan baik. Kendati bukan yang spesial lagi." Itu malam yang sendu. Sampai-sampai kukunci kamar dan menangis semalaman usai menutup teleponmu. Sejak itu kamu satu-satunya masa lalu yang kuharap akan baik ke depannya.
Itu artinya sudah lama pula aku tidak bertemu keluargamu. Bisa saja mereka menganggapku sudah mati atau sudah lulus sebab tak sekalipun menampakkan batang hidungku, main ke rumahmu. Tidak pernah lagi ikut mancing sama kerabat-kerabatmu atau sekadar nyangkruk dang ngeteh di pinggiran gang rumah pamanmu. Atau memang barangkali hanya wasangkaku saja. Maafkan. 
Begitu ibumu menyapaku air mukaku berubah. Panik. Mengusek-usek rambutku yang sebelumnya sudah kurapikan. Bahkan aku merasa seperti maling ayam yang ketangkap basah dan menunggu digebukin massa. Tapi aneh, raut muka ibumu tetap sama. Menyapa dengan perlakuan yang sama laiknya kita pacaran dulu. Menanya kabar kok sampai lama tidak kelihatan. Diksi dan aksen tutur yang digunakan ibumu juga tidak kasar atawa berlumur benci. Pada akhirnya baru aku tahu ternyata kamu belum bilang apa-apa pada ibumu dan keluargamu soal hubungan kita yang sekarang. 
Baik, aku duduk dijamu ibumu. Kamu belum sampai, masih di dalam taxi menuju rumah. Dari SMS mu menyuruhku untuk berlaku biasa dan jawab saja jika kemarin-kemarin sibuk kerja. Kalau perlu sampai ke luar kota. Fuck, pikirku. Soal bohong pada orang tua sendiri memang kerap. Itupun buat menutupi identitas diri dan buat jaga kesehatan mereka. Tetapi ini orang tuamu, orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kerahasiaan identitasku. Ah sudahlah, semoga Tuhan mencatatnya sebagai bohong yang berkategori baik.Ibumu dan aku bicara banyak hal, termasuk sekenario yang musti kukembangkan sendiri. Aku memllih sekenario yang ke luar kota. Tidak ada tanda-tanda ibumu curiga dan masih percaya kalau hubungan kita tetap bak-baik saja; sebagai pacar. Ibumu lalu mengundangku untuk hadir di pesta pernikahan kakak perempuanmu. Bukan sebagai tamu undangan tetapi tukang rewang. Itu artinya aku musti terlibat selama prosesi pernikahan berlangsung. Dua hari. Oh ya terimkasih juga ajakan nonton bareng final Euro-nya malam itu. Aku menang Bu, aku menaaang...!
 Hari yang kedua. Aku penuhi undangan ibumu. Aku datang dengan kegusaran yang kepalang. Aku berbaur di antara puluhan sanak saudaramu. Yang ini yang itu, tidak  semuanya kukenal. Waktu itu masih upacara seserahan. Penyerahan barang-barang (termasuk mahar) dari pihak lelaki ke pihak perempuan. Kamu tunjuk aku sebagai salah satu pembawa barang bersama keluargamu yang lain. Herannya tidak ada yang memandang penuh tanya siapa aku disana, atau barangkali belum? Bagaimana bisa orang asing terlibat begitu jauh pada ritual sakral keluargamu. Aku tidak tahu, aku menurut saja. Aku bawa barang itu dan melakukan segala tindak-tanduk yang telah diadatkan. Termasuk berbaris rapi dan berjalan menuju ruangan yang penuh sesak dengan orang-orang yang tidak kukenal. Katamu, aku sebagai wakil dari pihak keluarga laki-laki.Ini murni kepura-puraan. Bagaimana bisa ritual sakral begini...? "Diem, namanya juga kepaksa," tandasmu. Pikirku kalau memang tidak mencukupi sarat kenapa musti memilih adat yang begini. Oh dasar adat. Seprangkat norma yang ketat dan mengikat. Baiklah ritual selesai, pihak lelaki sudah menyatakan diri buat melamar pihak perempuan dan pihak perempuan juga menerima lamaran si laki-laki. Lalu apalagi? "Selanjutnya, sesi pengenalan anggota keluarga masing-masing."
Mampus, kata-kata dari  master of ceremony itu bak petir mengganjur kepalaku. Perasaanku kebat. Salah satu pamanmu maju dan muai memperkenalkan satu persatu keluargamu yang hadir. Mulai dari barisan paling ujung ke hilir. Dan aku yang begitu kalang berada di barisan tengah. Nama-nama yang disebutkan berdiri agar keluarga dari pihak laki-laki yang hanya beranggotakan bapak, ibu, dan calon pengantinnya itu sendiri lebih mengenal. Oke, semuanya akan baik-baik saja. Dan memang. Malam itu tidak semua orang yang hadir disana mengerti siapa aku. Sebab aku tidak pernah berdiri dan tidak ada alasan buat brdiri. Barangkali aku hanya menjadi pusat perhatian karena satu-satunya yang duduk.
Hari ketiga. Hari yang paling sibuk. Puncak dari acara pernikahan kakak perempuanmu. Aku datang lebih awal. Aku datang dengan segenap kesiapan untuk asah-asah piring dan gelas. Aku bahkan tidak berjumpa denganmu waktu itu. Aku melihatmu sedang dirias di kamar pengantin. Oh ya, sanggul rambut yang kamu kenakan waktu itu amat padu dengan raut mukamu yang njawani.  Yang nikah siapa yang sibuk dirias siapa. Batinku sambil menyodorkan  traktasi ke kenap tamu-tamu. 
Menjelang sore ibumu menghamipriku. Ternyata ibumu juga dirias, cantik sekali. Hahahahaha. Ibumu memintaku makan. Aku sudah makan tadi. Bareng kru-kru yang lain. Kru listrik, sound sistem, dan kru dekorasi.  Tidak hanya itu, ibumu memintaku untuk jadi pager bagus. Oh shit.. apa lagi ini? Setelah dijelaskan, aku mengerti apa itu pager bagus. Orang yang bertugas mengawal manten menuju pelaminan. Harus berdandan dong? Tentu. Seprangkat sorjan, jarit, blangkon dan pernak-perniknya disodorkan padaku. Sejam lamanya aku berdandan. Bersama anggota keluargamu sebayaku dengan kostum serupa. Mereka juga para pager bagus? Iya, setelah kira-kira delapan orang siap dengan pakaian ala keraton, pesta segera dilangsungkan. Sukurlah ternyata tugas menjadi pager bagus tidak terlalu sulit. Hahaha. Pesta pernikahan dinyatakan usai. Aku dan beberapa keluargamu yang menjadi pager bagus tadi telah beralihfungsi menjadi penjaga buku tamu sebelumnya oh ya kamu juga.
Master of cereomny bikin ulah lagi. "Yang terakhir sesi foto bersama pengantin." Entah kenapa MC itu seperti orang yang paling berkehendak. Apa karena ia satu-satunya yang memegang mic? Ah tidak penting, lupakan. Ia memanggil seluruh anggota keluarga untuk berfoto brsama pengantin. Sebenarnya bukan salah si MC. Melainkan kamu yang buru-buru menggandengku masuk ke ruang pelaminan yang sudah berjejal keluargamu mengantre untuk berfoto. Lagi-lagi setelah MC memetakan giliran keluarga mana yang akan berfoto dengan manten. Dan lagi-lagi aku kebat dengan keluarga yang mana aku harus berfoto. Sedang aku sudah lanjur disana dengan kostum yang seragam. Barangkali akan terulang lagi, aku menjadi satu-satunya orang yang tidak akan berfoto dengan manten.  Tapi kamu menjadi orang paling tahu. Kamu menggandengku maju dan bilang pada MC untuk foto sejoli bareng manten. Kamu bilang pada keluargamu kalau aku calonmu. Dan kita perlu berfoto soal itu. Tidak ada waktu buatku protes. Bahkan kamu tidak meberiku waktu untuk merasakan malu. Buru-buru fotografer mengambil gambar setelah menata formasi yang apik bareng manten. Disinilah yang kumaksud aku merasa menjadi seperti Nick Mercer, yang diperankan Dermot Mulroney dalam The Wedding Date. Entah berapa mata dari keluargamu yang meliahatiku aneh, melihati kita berfoto bersama di depan mereka. Aku dengan sorjan merahku dan kamu dengan kebaya merahmu. Oh ya satu hal yang belum kumengerti, mengapa mereka bertepuk tangan usai kita foto? Hahahaha. 
Langsai sudah, termasuk cibiran dari keluargamu, "cepat nyusul-cepat nyusul" Aku pamit dan kamu meangatarku sampai ujung gang keluar rumahmu. Selain purnama yang mulai tua yang mencacak indah di atas sana ada juga tutur katamu yang merentak pilu. Seakan menghardik ulu hati untuk menjerit."Jadi apa kita pacaran lagi?" tanyamu.
 
Copyright © 2010 imajinasi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger