Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Hi Son, Happy Birthday

/ Selasa, 07 Agustus 2012 /
(Suaranya terdengar parau. Berat seperti ada isak tangis yang tertahan. Jauh di seberang sana seseorang kakak sedang menelpon adiknya)
Namanya Chusnil, tetapi seharusnya Husni. Di akte tertulis Husni bukan Chusnil. Entah kenapa belakangan ini nama itu kembali membuatku terusik. Dalam hidup, saya tidak pernah merasa sangat iri kepada siapapun kecuali dengannya. Sejak kecil saya sudah ditakdirkan menjadi adiknya. Selisih umur saya hanya tiga tahun dengannya. Chusnil itulah yang membuat saya selalu kalah dalam hal apapun. Dan saya tidak pernah sempat merasakan yang namanya “ngalah”.
Ketika SMP saya baru menyadari sebabnya. Chusnil memang lebih tampan dibanding saya. Hidungnya mancung hidung saya ambles. Rambutnya ikal. Rambut saya dangkal dengan dahi yang lebar. Kulitnya putih bersih dan kulit saya sawo matang yang kematangan. Kami beda hampir dalam semuanya. Dia terdidik menjadi penurut. Saya pembangkang. Dia memilih menjadi anak yang baik bahkan saya samar antara yang baik dan buruk. Chusnil memang mendapat lebih dibanding saya.
(Malam itu benar-benar hanya ada rindu tetapi abu-abu. Dari seorang adik yang selama hidup hampir tidak pernah merasa punya kakak)
Selepas SMA dia ditawari kuliah oleh ibu-bapak. Sedang saya terancam cukup di SMP. Secara akademik saya memang kurang berkualitas. Rapor saya hampir tidak pernah lolos dari angka merah. Sedang rapor dia yang sudah pasti di perebutkan ibu-bapak nihil dari angka merah. Saya pernah tidak naik kelas. Itu tidak terlalu mengejutkan bagi ibu-bapak. Sebab bebarengan dengan itu rangking Chusnil merosot. Dari pertama menjadi juara ketiga. Kami berdua pun mendapat hukuman. Nitendo dinonaktifkan bapak. Pikir bapak mesin game itu sangat berpengaruh pada prestasi. Padahal saya jarang sekali bisa main nitendo. Sebab Chusnil dan teman-temannya lebih dulu memakainya. “Anak kecil bisa apa? Nonton saja. Tak ajari,” ujar dia dan mengambil alih paksa sticknya.  Kalau sudah seperti itu, saya harus mundur melihati dia dan teman-temannya main mortal combat dengan hati yang ciut.
Tetapi Chusnil masih bisa dapat hadiah. Sebuah komputer yang belum level pantium. Itu pun dari hasil kesepakatan antara bapak dengan dia sebelumnya. Jika juara pertama akan dibelikan motor KTM. Juara kedua diajak ke Bonbin Surabaya plus komputer. Dan jika juara ketiga hanya komputer itulah jadi miliknya. Saya, tidak perlu repot-repot bikin pemetaan macam begitu. Karena memang tidak perlu. Hanya buang-buang waktu untuk sebuah ketidakmungkinan menyabet gelar juara.
(Dua tahun berpisah malam itu kali awal kakak mengkhususkan menelponku. Kali pertama berbicara serius saat kami sudah sama-sama merasa dewasa. Kurang begitu laki-laki rasanya jika ada tangis)
Masa SD saya tandai masa paling kelabu. Saya kerap dibohongi oleh ibu dan bapak. Pada suatu malam saya diminta menjaga rumah. Sedang ibu dan bapak bilang mau pergi ke dokter mengantarkan Chusnil berobat mata. Setahu saya mata Chusnil memang bermasalah. Dia terkena gangguan penglihatan dengan minus 1,5 sejak SMP. Yang mencurigakan, sepulang dari dokter ibu membawa tahu petis, makanan kesukaan Chusnil. Dalam posisi kelas 3 SD, saya sudah tahu kalau tahu petis seperti itu hanya ada di pasar malam. Saya memang kurang suka tahu petis. Saya lebih suka martabak telur yang juga di jual di pasar malam. Saya hanya iri kenapa Chusnil diajak ke pasar malam sedangkan saya tidak. Saya cukup berperasangka baik waktu itu. Barangkali ini memang masih dalam rangka hukuman.
Dari segi ukuran tubuh kami berdua memang relatif sama. Oleh karena itu baju-baju kami pun sama. Tetapi lebih dari pada itu ada hal-hal yang disembunyikan ibu-bapak dari saya. Saya tidak pernah tahu kenapa Chusnil selalu punya jam tangan dan saya tidak. Dia punya sepeda BMX dan saya hanya diperkenankan  mbonceng dia walau itu sangat jarang terjadi. Saya juga tahu, setiap senin dan kamis, sebelum sekolah Chusnil mampir dulu ke pasar buat ngambil jajanan dari ibu. Dan pastilah Rudi tahu kalau setiap senin dan kamis saya harus mbonceng dia ke sekolah lantaran Chusnil ke pasar.
(Ia mengabarkan kepedihan. Kepedihan yang tidak mampu membuat pendendam tega menertawakan lawan. Tidak, ia bukan lawan. Ia kakaku. Saudara sekandungku yang menempati rahim ibuku sebelum aku)
Di tahun yang sama betapa saya baru menyadari ternyata Chusnil adalah anak yang dinantikan kehadirannya. Terlebih ibu saya. Bapak saya seorang duda dengan tiga anak. Dia mengawini ibu saya yang juga janda tetapi belum beranak. Kelahiran Chusnil begitu dinanti karena dianggap bisa menyatukan hubungan ibu dan bapak. Kendati ibu juga kepingin punya anak dari rahimnya sendiri. Sedangkan mungkin kelahiran saya sudahlah tidak diharap. Hanya memperbanyak anak. Dan itulah kenapa saya menjadi yang terakhir di keluarga. Bapak saya merasa, isi rumah sudah bebal dengan anak.
Selepas SMA, Chusnil menampik tawaran buat kuliah. Tentu ibu dan bapak semakin berbangga hati lantaran dia memutuskan untuk bekerja walau serabutan. Dia seperti patut menjadi contoh panutan bagi remaja seusianya, tetangga, dan juga sanak keluarga yang lain. Dan selama ini dia memang telah mendapatkannya. Menginjak saya SMA akhirnya dibolehkan melanjutkan sekolah Chusnil sudah setahun di Batam. Dia pun cepat peroleh pekerjaan. Ibu dan bapak tak ubahnya kehilangan sepuluh anak. Satu-satunya hal paling menggembirakan selama itu adalah saat Chusnil menelpon mereka. Itu jadi pemandangan paling membosankan selama saya SMA.
(Jauh disana, ia bilang bahwa pacarnya hamil dan minta dinikahi. Sedangkan disini ibu-bapak masih begitu mengharap jerih payah hasil keringatnya yang bisa dibanggakan. Kepada tetangga dan juga kerabat lainnya)
Dua tahun sudah Chusnil di Batam. Tidak ada angin tidak hujan tiba-tiba dia bilang mau menikah. Ibu menjadi orang yang paling tidak setuju. Dan saya hanya bisa mengkerutkan dahi saya yang makin lebar saja. Bapak hanya berusaha memberi pengertian kepada ibu. Sebulan setelah mengabari akan menikah, Chusnil pulang ke rumah bersama calon istri dan keluarganya. Pikir saya yang masih SMA, untuk laki-laki seganteng Chusnil mau menikahi perempuan tonggos begitu. Tidak. Rupa gadis itu memang tidak cantik. Pikir saya yang selalu tahu mantan-mantan pacar Chusnil dialah yang paling jelek. Chusnil akhirnya tetap menikah diantara kontroversi bapak dan ibu.
Walau saya tidak begitu dekat dengan ibu, tetapi saya tahu ibu sebenarnya tidak begitu setuju Chusnil menikah dulu. Ibu masih mengharap lebih pada masa depan anak tercintanya. Anak yang selama hidupnya tidak pernah membangkang. Tetapi ibu tetaplah ibu. Dia harus sadar bahwa Chusnil memang sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidupnya. Tanggal dan tempat pernikahan sudah ditentukan. Semuanya akan berlangsung di Batam. Seorang ibu yang kecewa akan keputusan anaknya dan tidak pernah tahu mengapa anaknya membelot, ditambah seorang bapak yang tidak tahu harus berbuat apa, pasrah. Setahu saya keduanya tidak datang di hari pernikahan Chusnil di sana.
Selepas SMA, saya putuskan untuk merantau. Apapun yang terjadi saya harus keluar dari kampung ini. Diam-diam saya mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di berbagai perguruan negeri yang mau menerima. Tanpa menggubris ibu-bapak, saya diterima dan kuliah di Yogyakarta. Saya tidak begitu merasa berdosa pada mereka. Sejak dari kecil saya terbiasa membangkang. Saya kerap diperlihatkan kebohongan-kebohongan yang tersamar; dipercundangi. Saya memang tidak didik menjadi baik. Saya tidak diharapkan ketimbang Chusnil. Tetapi saya merasa menjadi lebih baik daripada Chusnil sekarang. Dia yang diharapkan akhirnya membangkang. Dan saya yang tidak pernah diharapkan rupanya tetap sama di mata ibu dan bapak. Buruk.
(Aku diminta merahasiakan. Ia bilang baru aku yang dikabari. Barangkali ini memang tugas dari adik untuk selalu merahasiakan kesalahan kakaknya. Juga pesan dari kakak untuk tidak meniru perbuatannya)
Selama merantau, setiap kali pulang perlakuan ibu tetaplah sama. Apalagi bapak. Buletin, majalah, buku, dan hasil karya saya, rupanya tidak mampu membuka mata ibu dan bapak saya yang selama ini memandang sebelah kepada saya. Tetangga dan kerabat pun masih sama. Setiap kali bertandang atau berjumpa ada saja yang  mengira saya adalah Chusnil. Saya sering merasa bahwa saya tidak pernah ada di keluarga ini. Atau jangan-jangan memang tidak pernah ada. Saya adalah ilusi. Pula, kalau kebetulan membantu ibu saya di pasar, masih saja ada pertanyaan. “Lhoh Bulek ini siapa? Yang dulu ke Batam itu ya?” Whatever, i do’nt care!
Sudah lima tahun saya di kota ini. Selama itu pula saya tidak pernah mendengar kabar Chusnil lagi. Kecuali dari ibu-bapak dan saat saya pulang. Anaknya sudah dua, katanya. Sedang Chusnil nampaknya mulai lupa saja dengan saya. Kendati tiba-tiba malam ini saya mengingatnya. Saya ingin menyapanya. Selamat malam. Selamat ulang tahun. Rahasiamu tetaplah aman. Kamu akan jadi baik selamanya di mata ibu juga bapak. Maaf telah mengecewakanmu. Serta menuduhmu yang bukan-bukan.
(Setua apapun saya nanti, rasanya saya akan tetap menjadi adik. Adik tidak akan pernah jadi kakak. Dan rahasia tetaplah rahasia. Meski yang meminta menjaganya terkadang sudah lupa)

Variasi Kematian #3

/ Jumat, 20 Juli 2012 /

Aku sekarat. Akhirnya, setelah menunggu waktu kematian yang ternyata datang lebih cepat dari perkiraan. Mulutku berbusa dengan bau apple wine yang kutenggak lima belas menit lalu. Aku tidak menyangka alkohol tolol dan murahan itu yang akan membukakan pintu mautku. Tetapi aku belum mati. Aku hanya tidak bergerak. Terbaring dan nyaris tidak bernafas. Dadaku sangat sesak.
Aku masih limbung dan linglung. Antara aku akan mati dengan variasi kematian yang mana; pertama atau yang kedua? Sebuah cerita pendek soal variasi kematian yang habis kubaca dari Agus Noor begitu mempengaruhiku dalam kesekaratanku. Dia menuliskan hanya habis di bilangan kedua.
Dari ceritanya sebenarnya aku ingin pilih variasi kematian yang pertama. Mati dengan begitu tenang dan bisa direncanakan. Mempersiapkan segalanya sehingga aku bisa mati  dalam keadaan yang menyenangkan. Aku ingin jasadku nanti dalam keadaan tersenyum. Masih tetap tampan dan tidak kurang satu apapun dari anggota tubuhku.
Tidak ada sesal yang terbawa. Pun luka yang terbiarkan menganga. Kehormatan, cinta, dan kasih sayang kita tidak berubah. Berbalik lesat dalam satu penghinaan yang mengganas. Atau jerit tangis orang yang malah merajang duka. Aku bisa pilih dimana tempat aku akan mati. Mengubur jasadku nanti. Aku tinggal berbaring tanpa merasai sakit dicabik-cabik malaikat. Aku juga bisa memakai setelan baju yang sopan saat akan menghadap Tuhan. Dan setelah aku mati orang-orang tidak perlu menangisiku.
Aku pernah bilang padamu bukan? Suatu saat kita akan mengerti. Perih dan pedih ini, hanyalah mimpi masa lalu yang secepatanya akan kita lupakan. Berlalu seperti biasanya, dan Tuhan dengan kuasanya hanya akan menyebut itu sebagai sebuah sepi. Benar-benar variasi mati yang kuidam-idamkan. Aku tidak akan menyesal karena pernah hidup.
Sedangkan variasi kedua adalah pilihan jika variasi yang pertama tidak bisa aku gagahi. Anggap saja variasi yang kedua ini takdir dari sang empuNya kematian. Takdir mana kenal pilihan? Mati variasi kedua ini mati pada umumnya. Aku tidak perlu tahu kapan dan bagaimana aku akan mati. Biar Tuhan saja yang tahu. Semacam rahasia mungkin. Dan rahasia inilah yang seolah membuat hidup manusia ada batasnya. Sampai tiba waktunya nanti malaikat akan mendatangiku. Dengan wujud yang bagaimanapun dan dalam keadaan yang seperti apapun. Aku harus terima.
Aku bisa saja sekarat dan mati dalam keadaan menyesal. Aku menyesal kalau selama ini, waktu kita telah habis buat cari pembelaan sendiri-sendiri. Untuk sejuta alibi yang datang setiap hari. Argumenmu yang menyebabku jadi beranggapan bahwa hidup memang harus berpikir. Lantaran hidup itu rumit. Sedangkan mencari, menjadi sebuah teori yang kamu lupakan dari ingatan-ingatan yang terus dipaksa untuk tangguh. Sampai kita pada kahirnya saling tidak acuh.
Mati dalam variasi kedua ini bisa datang dari arah manapun. Bisa saja tubuhku hancur. Darah dan gumpalan daging tercecer di jalanan. Lalu orang-orang yang tidak pernah kukenal menutupi jasadku yang tidak utuh lagi, dengan dedaunan dan koran-koran bekas. Sementara lalat berkcibak di genangan darahku yang sudah bercampur tanah dan debu jalanan.
Aku tidak pernah lagi sempat bertanya padamu. Apakah setiap hubungan harus dinamai? Tidak cukupkah kita membuatnya bisu? Merangkai kesepakatan yang tidak perlu ditahu orang? Tidak cukupkah hanya kita berdua saja yang menikmati?
Kenapa tidak ada surat lagi? Tidak ada kabar? Tidak ada senyum luka? Tidak ada tatap yang sinis? Tidak ada sentuhan? Seharusnya tidak begini bukan? Atau memang seharusnya begini? Semestinya tidak seperti ini bukan? Atau memang semestinya seperti ini?
Tidak. Aku tidak tahu. Tidak akan ada jawaban karena aku tidak sempat bertanya. Dan orang-orang di jalanan begitu sibuk berbisik atas ketragisan matiku.
Atau bisa saja aku akan mati karena sakit yang berkepanjangan. Terbaring tidak berdaya, mati, dan sekarat di rumah sakit dengan tubuh yang digerogoti penyakit. Koyor, hanya sisa tulang dan kulit. Rambut yang meranggas dan rontok. Atau kulit yang lisut dan kasap seolah hidup yang selama ini terjalani begitu sia-sia. Dan aku akan bertanya kepadamu karena ternyata maut masih memberiku kesempatan.
Tidak bisakah kita mengulangnya lagi kehidupan kita yang kemarin? Memulai dari awal dan memeprbaiki laku kita? Maka aku akan bangkit dari sekarat ini. Kita tinggalkan rumah orang sakit ini. Aku akan lawan yang namanya maut. Aku usir jauh-jauh malaikat maut yang menjelma bangis itu. Baiklah kalau memang itu maumu. Aku akan turuti. Mari kita maknai saja hubungan ini. Tetapi  dengan yang sederhana saja. Dengan senyum saja. Cukup dalam tiap lekuk kening, bibir, dan leher kita tanpa merambah ke yang lain. Bagiamana?
Kenapa kamu masih diam disana? Oh lihatlah aku yang sedang sekarat begini. Dengan lengan yang tertusuk jarum dan selang mengalir dari botol plastik. Beginilah caraku makan selama ini. Aku bahkan sudah lupa seperti apa rasa manis, asam, dan asin. Menyedihkan bukan? Aku tidak mampu melakukan apapun. Sepanjang hari hanya mengingatmu dengan sisa-sisa yang tertinggal. Bau tubuhmu, hingar suaramu, dan degup nafasmu. Jawabanmu masihlah tidak? Sama halnya. Sia-sia. Aku mati dengan harapan yang menggantung.
Lalu orang-orang dekat dengan gampangnya bersedih. Menangis meraung-raung seoalah mereka kehilangan. Belum lagi, namaku akan dibicarakan banyak orang. Yang dekat akan bilang semasa hidupku katanya aku orang baik. Padahal aku telah dipercundangi. Hartaku diperebutkan. Belum lagi berbagai media menyebutkan. Telah meniggal dunia dengan tenang... Anjing, bagaimana ia tahu kalau aku mati dengan tenang? Sungguh aku tidak ingin mati yang begini.
Tetapi, bagaimana kalau aku menciptakan sendiri variasi kematian yang ketiga. Kendati tidak bisa memilih yang pertama dan enggan sepenuhnya merasai yang kedua? Mati dengan variasi ketiga ini barangkali percampuran dari pertama dan kedua. Aku rasai sendiri saat sekarat macam begini. Rasa sakit yang masih bisa kusetir hingga perlahan menjadi nikmat lantaran mengenangmu. Ketika selusur urat leherku seolah terjerat tambang yang kuat tiba-tiba ringan dan terjuntai dengan tenang dan tubuhku melayang akhirnya.
Aku masih sempat berkaca. Tersadar kalau ternyata malam begitu kerap mengumpan janji. Sampai-sampai malam itu kita berciuman begitu lama dan hangat. Kita tergetar kiendati lupa menyebut siapa dan apa kita. Kamu begitu saja terpikat dan aku terjerat.
Maka sudah sepantasnya aku meminta maaf atas keterasingan-keterasingan yang kita perbuat. Memohon ampun untuk kealpaan janji-janji dan aku akan siap buat mencumbui malam dengan impian-impian yang mengabur. Bersama sesak nafas yang sebentar lagi amblas. Aku tidak perlu menghabiskan pikir. Kenapa penyesalan selau di taruh di akhir.
Bisakah kamu agak mendekat? Ayolah, aku ingin begitu lelap detik ini. Tidak kurang tidak lebih. Bolehkah? Aku ingin lelap yang sempurna. Biar kawin denganmu jadi mimpi saja. Terimaksih telah mencitaiku dengan keadaan. Walau itu pahit tapi setidaknya kamu jujur dan tidak mempercundangki habis-habisan.
Aku lebih benci pada orang yang bilang cinta karena ketiadaan. Apanya yang mau dicintai? Sedang tidak ada apa-apa. Tidak ada ketampanan, kekayaan, kepandaian. Ah sudahlah. Sebenarnya aku ingin bercerita banyak hal, soal variasi kematian yang ketiga ini. Variasi kematian yang paling aku suka. Tapi apa lacur, aku sudah mau mati. Aku mati dulu ya. Selamat pagi. Aku mati setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada diriku sendiri.

Wahai maut. Bersediakah kau mengambil sunyiku sekarang? Silakan.

Sepasang Mata yang Lentik

/ Sabtu, 14 Juli 2012 /
Sepasang mata yang lentik itu seolah masih tinggal di sudut kamarku. Terkadang aku mendapatinya saat pagi masih begitu buta, saat mengaduk kopi, mencari korek api atau terkadang sepasang mata yang lentik itu mengintip di balik kepulan asap rokok yang meyembul dari mulutku. Sepasang mata itu juga ada di saat aku memutar lagu-lagu sendu, membaca buku-buku tertentu, menulis, dan saat menggaruk senar-senar gitarku.
Sepasang mata itu kudapati beberapa bulan lalu. Dari tumpukan sampah yang membusuk dan di tepian jalan yang lengang; sepasang mata yang sengaja dibuang pemiliknya. Aku suka pada sepasang mata itu bukan lantaran keindahannya. Aku seperti menemukan gambaran hidup yang senyata-nyatanya hidup saat melihat sepasang mata itu. Kesenduan, keberanian, kasih sayang, keegoisan ada disana. Sepasang mata yang cukup membuat bibirku ketam dan gagu saat mencumbunya. Tapi sepasang mata itulah yang lanjur membuatku jatuh cinta.
Aku tidak tahu mengapa bisa begitu buru-buru jatuh cinta pada sepasang mata itu. Mungkin benar katanya, aku telah mengidap sakit jiwa. Sakit jiwa yang penderitanya mudah sekali melebuhkan cinta. 
"Sepertinya kamu harus segera menikah deh?"
"Kenapa?"
"Kamu kayaknya sudah tidak bisa hidup sendiri," katanya.
"Hemm..."
Aku kecanduan dengan sepasang mata itu bukan lantaran aku tidak bisa hidup sendirian. Menikmati kopi sendirian, merokok sendirian, mendengarkan lagu-lagu sendirian atau bahkan tidur sendirian. Ini semata-mata bukan soal kecamuk ranjang, berkucindan, berdialog dengan bahasa-bahasa yang aneh, menirukan karakter-karakter tokoh terkenal, dan bercinta. Semata kugandrungi sepasang mata itu lantaran aku seolah menemukan sesuatu yang pernah terenggut oleh waktu. Sepasang mata yang saat kutatap, begitu hangat. Rasa rindu masa kanak-kanak nan menentramkan kembali kurasai. 

Hai sepasang mata, apa kabarmu?


Kala Meradang

/ Sabtu, 09 Juni 2012 /
di pagi yang masih muda keputusan besar telah dibuat
disetempel merah dengan tinta darah merekat
merah, merah, dan begitu merah...
darah dari gumpalan kecewa yang mengeras
dari kemarahan yang menggunung
dari keputusasaan yang nyeri
dari kegairahan yang akhirnya mati
bertubi-tubi
yang dicinta tidak mau mengerti
yang dirindu begitu kaku
yang dinginkan kelewat lalu
padanya kutukan tertuju
berkali-kali
di hidup yang lebih dari dialektika ini
ribuan paradoks berhulu
ada rindu tapi terselip muak
membenci tapi mencintai
mendamba sekaligus ditabukan
ia hidup namun segera mati
terus-menerus
sampai datang suatu pagi
di tepian fajar yang ojok
dengan kilatan murka melecit
bak lecut Mikail
tak ada lagi ragu di persimpangan
tak ada harap yang tersemat
atau pungguk yang merindu bulan
tak ada, tak akan, lagi






May…

/ Rabu, 30 Mei 2012 /
Tanda seru yang kau sertakan untuk memungkasi surat tronikmu pagi tadi lebih dari sekadar kalimat berita undangan. Aku merasakannya sebagai berita kehilangan, tiba-tiba.


May, ia temanku masa kecil di kampung halaman. Dalam kehidupan di pedesaan, tetangga dekat adalah teman. Entah hukum apa yang berlaku, tetangga juga kebanyakan rupa saudara. Samping rumah masih punya pertalian darah. Entah Pak Lek-Bu Lek, entah Pak De-Bu De. Namun tidak dengan May. Teman bermain sekaligus teman belajarku ini bukan saudara. May gadis periang yang masih mewarisi gen Tionghoa Lasem. Rambutnya lurus tipis-tipis, matanya ciut, alisnya mirip celurit, dan kuning langsat kulitnya.
Aku lupa berapa usiaku waktu itu. Jelas terang aku duduk di kelas dua SD. Begitu juga May, ia sebaya denganku. Bedanya kami tidak mengenyam bangku sekolah yang seatap. May bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah. Sekolah swasta setingkat SD tapi sarat akan mulok agama. Rumah kami tidak jauh jaraknya. Hanya selang satu rumah di belakang rumahku dan selang satu rumah di belakang rumah May sudah laut adanya. Sekolah kami juga tidak jauh jaraknya, mungkin 100-an meter dan pada arah yang sama. Beigtu juga lautnya. Bisa dibilang kami anak pantai.
May dan aku teman yang intim. Walau beda jenis kelamin kami tak pernah permasalahkan kegemaran main bersama. Kedekatan kami agaknya terkait campur tangan orang tua. Ibuku menyayangi May layaknya anak sendiri. Bahkan Ibuku punya panggilan khusus buat May. Ibuku tidak pernah sekalipun panggil dengan kata May melainkan Ning. Di tempatku Ning adalah panggilan untuk peranakan ulama besar. Semacam Gus, jika peranakan itu laki-laki. Ibuku tahu aturan itu, kendati May bukan anak dari seorang kyai tetapi dengan prinsipnya sendiri ibuku tetap menamainya Ning yang menurutnya punya asosiasi kecantikan. Aku setuju, Ning memang cantik tetapi aku lebih suka memanggilnya May.
May piatu saat usianya di bawah tiga tahun. Ibunya meninggal saat akan melahirkan adiknya. Dalam satu waktu May kehilangan dua orang sekaligus yang mungkin sangat berarti. Menurutku ada untungnya juga May masih kecil waktu itu. Ia tidak perlu merasa kehilangan yang sampai mengharu biru. Ia bahkan belum tahu makna kehilangan mungkin. May hanya tahu ibu dan adiknya meninggal dari balutan-balutan cerita. Dan May sudah terbiasa dengan hal itu.
Jika kebetulan sekolah May pulang pagi ia pasti akan mampir ke sekolahku. Menungguiku di taman sambil menjajaki beberapa fasilitas anak-anak yang tidak dimiliki sekolahnya. Main ayunan, biasanya sambil makan snack ringan macam fuji mie. Setelah itu kami akan pulang bersama-sama. May menenteng jilbabnya dan aku menjinjing sepatuku. Lalu kami akan berhenti di bagian terluar pekarangan masjid. Mencari daun paling lebar dari tumbuhan kelas perdu bernama anak nakal yang dijadikan pagar masjid.
Itu pasti. Baru setelah adzan dzuhur berkumandang, kami berdua akan tunggang-langgang untuk pulang. Lari kocar-kacir sambil teriak gorokan gulu, gorokan gulu. Ini adalah mitos paling keparat yang diwariskan para orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar tidak bermain menjelang dzuhur. Gorokan gulu yang bisa juga diartikan pemotong kepala adalah cerita seram yang paling ditakuti anak-anak saat siang bolong. Gorokan gulu, versi cerita orangtua sejenis orang gila yang membawa pisau, celurit, gergaji, atau benda tajam lainnya yang jika menemui seorang anak akan dipotong lehernya.
Nyaris dalam setiap harinya waktuku mengalir bersama May. Sore hari kami main di pinggiran laut. Berburu jingking, binatang semarga dengan kepiting yang larinya secepat kilat. Atau kalau tidak, May akan ke rumahku menonton acara Si Komo, boneka komodo yang lucu. Menjelang maghrib aku dan May sudah di surau asuhan Mak Itun. Bersama anak pantai lainnya yang sebaya. Menumpuk Qiro’ati di meja kayu untuk digilir ajar ngaji oleh Mak Itun. Selepas maghrib sudah pasti May ke rumahku sampai Isyak. May dengan buku tulisnya berwarna dan aku dengan buku tulis yang motifnya sederhana.
Walau aku dan May teman yang intim, sekali pun aku belum pernah main dan masuk ke rumah May. Aku hanya tahu rumahnya berwarna hijau mupus. Entahlah tampaknya aku punya kelainan selalu merasa tidak nyaman jika masuk di rumah orang lain. Aku juga tahu neneknya setiap pagi menjual kerupuk di pasar Gandri, dan aku tahu bapaknya seorang nelayan tradisional yang dua hari sekali pulang untuk melelang tangkapan lantas melaut lagi.
Sejak toko elektronik keluarganya di Lasem dibakar massa yang konon imbas dari kerusuhan politik menjelang reformasi. Perekonomian keluarga May bisa dikata berantakan. Nyata saja, bapak dan ibunya May bisa membangun ulang toko, namun perekonomian disana benar-benar sudah dimatikan. Toko-toko Tionghoa sepi pengunjung sedang pajak dimahalkan.
Bapak May yang keturunan Jawa asli memutuskan untuk menggulung tikar dan menjual toko sekaligus rumahnya. Lalu pindah ke desa kelahirannya. Bersama seorang nenek dan bibi, bapak May mengasuh dan merawat May. Saat itu kondisi sosial masih belum tertata. Terjadi pendiskriminasian pada etnis Tionghoa di Lasem. Toko-tokonya di jarah, di bakar dan orangnya dibiarkan hidup. Orang tua May bukan satu-satunya pemilik toko Tionghoa yang terusir kala itu. Lasem menjadi kota tua yang sekarat kemudian. Lantas mati, sejak penghuni aslinya (Tionghoa) pada angkat kaki dari Lasem pertiwi.
Aku dan May tidak pernah punya masalah serius soal hubungan. Diantara kami tidak kenal yang namanya cinta, cemburu, perasaan rindu, atawa kangen yang menggelora. Diantara kami belum mengenal konsep saling memiliki. Mungkin kami belum memahami perosoalan itu. Atau hormon yang ada pada tubuh kami belum begitu kompleks. Aku ya aku, May ya May. Mainanku ya mainanku, Mainan May ya mainan May. Kalaupun ada cemburu, paling-paling sebatas keirian soal mainan. Semisal May punya mainan yang bagus dan aku sudah pasti merengek pada ibuku untuk membelikannya yang serupa.
Kehidupan kami normal layaknya dunia anak pada umumnya. Bermain, belajar, dan belum begitu mengerti parodi kehidupan. Sampai pada akhirnya aku menjadi berjarak dengan May. Keluargaku berpindah rumah di bagian selatan Rembang dekat Kota Blora. Sedang May di bagian utara. Secara geografis jarak rumah kami ada skitar 40 kilo meter. Jarak yang cukup jauh untuk main bersama apalagi anak seusia kami.
Tetapi aku tidak pernah merasa kehilangan May. Aku tidak sedih dan May pun nampaknya sama. Seintim apapun kami waktu itu, emosional kami belum begitu cerdas untuk menekuri lanjut sebuah hubungan pertemanan yang lekat. Sebuah perpisahan yang tiba-tiba menjerat, tidak cukup tangkas membikin sepi. Apalagi sampai merasa kehilangan satu sama lain. Tidak sama sekali, aku yakin.
Di sekolahku yang baru, aku juga dapat teman yang baru. Teman main dari anak tetangga juga banyak. Ada si Ipul, Rudi, Evi, dan sebagainya. Satu-satunya yang terkadang terasa hilang adalah laut. Jelas saja rumahku yang baru di daerah paling selatan Kota Rembang merupakan wilayah pegunungan. Dari laut inilah terkadang yang mengantarkanku untuk mengingat May. Lewat kebiasaan bermain bersama. Berburu jingking, main loncat tali tambang cancangan kapal para nelayan, atau buang air besar di pinggiran laut dan mengamati tahi-tahi kami dipilin ombak. Itu saja. Semakin lama ingatan-ingatan soal laut dan May menjadi jarang terlintas. Mungkin ini yang dinamakan beradaptasi. Segala rupa permainan baru cepat saja kulakoni dengan beberapa temanku yang baru. Main bentek, jirak karet gelang, gobag sodor, benteng-bentengan, ciblon di kali, berburu belalang, jangkrik, dan lainnya. Kenangan akan May seolah melenyap entah terlarung di laut entah hanyut di kali.
Usiaku makin bertambah. Usia May sudah pasti bertambah pula. Dari yang enam tahun, sepuluh tahun sekarang bisa lima belas tahun dan seterusnya.
Sudah lama kutanggalkan seragam putih-merah. Juga mulai menggantung seragam putih-biru. Sekarang saatnya mengenakan seragam putih-abu. Menjajaki Sekolah Menengah Atas aku pernah bermain di daerah dekat rumahku dulu. Seorang teman karib di sekolah  ternyata berumah di daerah tersebut. Sekali waktu aku bertandang ke rumah temanku itu. Sekali waktu itu pula aku teringat waktu masih tinggal di rumahku dulu, soal laut, dan tentu saja tentang May. Aku pernah punya teman masa kanak di sini. Kenangku dalam hati. Entahlah kenapa harus menunggu “sekali waktu” itu. Barangkali sekarang aku berteman dekat dengan orang sini. Barangkali pula sekarang ini aku sudah cukup tahu konsep kedekatan, saling memiliki, perpisahan, juga kenangan.
Sebenarnya pada setiap lebaran, bapak dan ibuku juga mengajakku nglencer ke rumah bibiku yang dulu rumah tinggalku. Entah kenapa rasa-rasanya aku tidak mengingat soal May saat itu. Sebatas lihat pernah waktu ngelencer disana, iya. Namun tidak terjadi apa-apa. May nampak sudah besar sebantaran denganku. Kami hanya saling lihat dan menyapa, itu saja. Rupa-rupanya perihal sungkan entah gengsi tumbuh kuat saat itu untuk sekadar mengukir kenangan lampau atau menekurinya agar lebih dekat. Aku dan May barangkali telah menginjak puberitas.
Waktu itu aku angkatan paling baru di Sekolah Menengah Atas. Aku tidak berani bilang May juga seangkatan denganku. Sewaktu SD iya, kami seangkatan walau beda sekolah. Tetapi aku pernah tinggal kelas setahun. Itu artinya bisa jadi sekarang aku satu tingkat di bawahnya. Namun itu tak jadi soal. Sekali waktu itu aku benar-benar ingin ketemu May. Paling tidak mengobrol dalam waktu yang lama. Anstisipasi rasa malu nantinya sudah kupersiapkan. Pertanyaan-pertanyaan seputar punya pacar apa belum juga sudah kupersiapkan. Pokoknya aku ingin ketemu. Bukan untuk berburu jingking, bermain lompat tali tambang cancangan kapal, apalagi mengajak buang air besar bersama di pinggiran laut. Mungkin saja kami akan membicarakan itu semua. Dan aku sudah bisa bayangkan betapa indahnya sebuah kenangan-kenangan itu untuk dibincang lagi. Yang mana yang memalukan. Yang mana yang mengasyikkan. Dan yang mana yang lucu. Pasti akan bisa teridentifikasi. Pikirku, sipu.
May di rumah. Kami bertemu. Kami tidak terlalu asing ternyata. May membikinkanku minum. Oh bukan memngambilkan. Kami cuma minum air putih. Dua gelas dan bebrapa buah rambutan. Kami duduk di ruang tamu, May. Aku tanya kabar bapak, kabar nenek, kabar bibi. Semua sehat. May tanya kabar keluargaku. Semuanya sehat. Aku sehat. May juga sehat. Wajahnya tetap saja cantik. Rambutnya masih tipis, sebahu. Alisnya masih mirip celurit orang Madura. Matanya juga tetap sempit. Kulitnya mutlak langsat. Ada yang berbeda, gigi. Rupa-rupanya susunan tulang-tulang kecil di mulutnya itu lebih rapi dan penuh di banding kecil dulu. Itu yang bikin May lebih cantik.
Sudah, sudah cukup aku berpatroli di wajahnya. Dan May juga nampak kurang nyaman kupantengi terus. Kami akhirnya mengobrol. Apalagi kalau bukan masa kanak. Seingat-ingatnya. Itupun berkat pancinganku dari sekanario awal yang terasa kasar. Dan mungkin sudah banyak kisah fiksi dan improvisasi yang sengaja kuramu agar tampak semakin dekat. Mungkin May juga. Buktinya aku tidak ingat saat May cerita kalau kami dulu pernah tuker-tukeran bunga. May memberiku bunga bougenville dan aku yang tidak mau kalah memanjat pagar sekolah untuk mengambil bunga terompet untuk May. Aku tidak ingat, sumpah.
Begitulah kami waktu itu. Aku dan May memang tidak asing. Tapi tidak seintim dulu. Mungkin benar terlalu banyak hormon yang berkembang di masing-masing kami. Hormon yang mengolah tiap-tiap emosi menjadi rumit. Tiap-tiap tingkah laku seolah minta didefinisikan dan dikait-kaitkan dengan perasaan. Kami akhirnya abai bicara soal cinta waktu itu. Yang satu ini memang terkadang sangat rumit untuk dibicarakan. Lebih rumit dari mengurai pintalan ton-tonan benang yang ruwet. Lebih berat, sesak, serak sampai terkadang membuat tenggorokan seperti berdarah. Aku pendam saja yang bagian itu. May juga tampak lebih asyik mem-bully-ku soal tidak naik kelas. Apalagi ketika May pada akhirnya tahu sabab-musabab aku tidak naik kelas. Mengencingi meja teman sekelas lantaran persolan dengki. Sudahlah May sudah. Aku undur diri dan bertukar kontak ponsel.
Kami dekat lagi, setiap akhir minggu aku berkunjung kesana. Lamat-lamat dua minggu sekali. Lama-lama sebulan. Dua bulan dan berbulan-bulan tidak lagi kesana dan akhirnya tahun yang bertanda. May terlupakan begitu saja. Melenyap lagi. Melebur, meluntur bersama seragam putih abu-abu mungkin. Atau juga rutinitas-rutinitas yang cadas. Pernah datang masa sekali waktu lagi, saat kelulusan sekolah. Kukunjungi rumah May. Namun May sudah tidak di rumah. May sudah di Surabaya. May bekerja di pabrik kosmetik kata bapaknya. Ya sudahlah, aku pulang berkalung murung. Barangkali kami sudah mulai melupa. Aku sadar kami punya musuh besar bersama; waktu. Kontak ponselku sudah ganti. Ponsel May juga sudah tidak aktif. Kami berpisah tanpa pernah bertemu lagi. Untuk teman masa kecil yang menyenangkan. Untuk teman masa puber yang cukup misterius. Kularung kau dari Jogja. Aku kehilangan.
Di suatu pagi, kudengar adzan subuh telah luruh dari tubuh. Berkelakar semalaman dia atas kasur dengan sprei bekas bercak sperma yang mengering. Kudapati pesan singkat di ponselku. Nomor asing dan tidak bernamakan diri. Aku maklumi membalas karena pikirku, barangkali pernah menyimpan nomor itu. Lantaran ganti ponsel banyak nomor yang raib. “siapa ya?” balasku buru-buru. “Aku May, eh datang ya. Bagiamana kabarmu?” Tidak kubalas. Sudah kuketik, awalnya. Kurang lebih begini. “Tiba-tiba dateng tahu-tahu mau nikah. Tega sekali kamu.”. Ku cancel. Barangkali malu. Barangkali marah. Barangkali kehilangan. Dan ketiga hal itu tidak selayaknya kulakukan.


Dalam hidup ada dua hal yang membuatku sering merasa kehilangan. Pernikahan dan kematian…



Mimpi Mati

/ Minggu, 27 Mei 2012 /
Ia masih terjaga. Tubuhnya terlentang di dipan kayu dengan beralaskan tikar pandan. Wajahnya tampak lencu. Sebilah bantal gepeng, diganjal pada tengkuknya. Kendati waktu menunjuk ke pukul dua; hampir sepertiga dari malam.
Barangkali kehamilan yang mulai ranum itu yang membikin ia susah tidur. Barangkali pula alasan enggan tidur lainnya dikarena ia sering memimpikan kejadian-kejadian aneh kalau pun tidur. Mimpi yang sudah berulang kali ia ceritakan pada suaminya. Dan berulang kali pula ia mendapat tanggapan yang kurang menyenangkan.
Sejak saat itu ia enggan bercerita tentang mimpinya. Ia lebih suka memendam kejadian-kejadian dalam mimpinya itu. Termasuk mimpinya tadi sore yang menjadikannya masih tetap terjaga sampai sekarang ini. Antara menceritakan (lagi) dan tidak, ia ragu, kalau-kalau suaminya mencibir. Atau jika sedang tidak beruntung, tamparan bisa mendarat di pipinya.
Kini, ia malah asik memainkan bola matanya yang kuyu. Memandangi lampu bohlam lima Watt yang tergantung di alang kamarnya. Berayun karena terpaan angin dari luar. Kedua tangannya diletakkan di atas perutnya yang membenjol. Dan berkali-kali menoleh pada suaminya yang sedang mendengkur pulas. Lagi-lagi ia ragu dan semakin ragu.
Kegelisahan tampak menebar di rona mukanya. Mungkin memikir mimpinya sore tadi. Mimpi yang sebenarnya pernah ia mimpikan sebelumnya. Mimpi yang mengabarkan soal suaminya yang mati tenggelam. Terseret arus sungai yang membatasi hutan dengan desanya. Nafasnya tersengal saat teringat suaminya mati dalam keadaan mengenaskan itu. Padahal pada hari-hari sebelumnya ia juga pernah bermimpi disambangi lelaki renta berjubah putih. Lalu mimpi bertemu seorang bocah lelaki dengan mata cekung, kurus dan pucat sedang melempari rumahnya. Dan kini tentang suaminya yang mati.
Mimpi-mimpi itu sungguh membuatnya gusar. Ia lantas duduk. Bersandar pada ujung dipan. Bantalnya dipindah untuk mengganjal pungungnya. Dan berkali-kali menoleh ke arah suaminya yang tengah mendengkur di sampingnya.
Sementara itu di luar, remah-remah gerimis berduyun menjadi gumpalan hujan yang membabi buta. Membasahi pucuk dedaunan sebelum memuntahkan ke atap rumahnya. Lebat, disertai angin yang kesetanan. Lalu disusul ledakan guntur yang bergema di dinding bambu rumahnya. Hampir dua jam sudah ia berkalung cemas dan gelisah. Bergelut melawan tafsir mimpi itu. Ia tak kuat lagi pada akhirnya. Rasa kantuknya mulai menjalar dan mengakar. Ia tidur dengan sejuta kekhawatiran di benaknya dan kelencuan di wajahnya.
Tak perlu menunggu lama, pagi lamat-lamat menghinggap. Sinar matahari dari timur menyibak kerumunan awan. Menembus sela-sela dinding bambu rumah dan menempa wajahnya yang kian pucat. Kokokan ayam jantan berganti riuh menjadi kicauan burung-burung merbah cerukcuk yang bertengger di pekarangan rumahnya. Perempuan itu terbangun.
Suara derit dipan, membuyarkannnya dari lelap yang sejenak. Lalu bunyi gemricik air dari pancuran; suaminya sudah lebih dulu bangun. Dan tampak sedang mencucui muka. Itu artinya, ia juga harus segera bangun dan beranjak dari kamarnya. Menyiapkan kopi atau sekadar mencuci perabotan yang kotor usai  dipakai sebelumnya.
“Kali ini aku akan ke hutan lebih pagi,” ujar suaminya sambil menyibak kerai pintu kamar dari potongan bekas sarung.
“Aku, dapat pesanan kayu Sengon lagi dari pak Darsun. Kali ini lumayan banyak. tambah suaminya sambil mempersiapkan peralatan.
Perempuan itu lantas beranjak dari ranjangnya. Seutas karet gelang yang melingkar di tangannya dilepas untuk mengikat rambutnya yang panjang. Agar tak tampak berantakan dan menutupi matanya yang kuyu.
“Apa tidak menunggu sarapan dulu Kang?” tanyanya yang kini berdiri di depan kaca buram yang tertempel di dinding kayu pembatas rumah dan kamar.
Tidak ada jawaban. Suaminya telah usai menyiapkan kapak dan gergaji yang dipautkan pada boncengan sepeda model jengki. Dari dalam kamarnya, terdengar samar suara tiga atau empat lelaki membincang dengan suaminya di depan rumah. Semakin samar dan jauh. Mungkin menuju hutan seperti yang dibilang suaminya tadi, pikirnya.
***
Belakangan ini, Karsan memang lebih sering ke hutan dari pada ke sawah. Saat matahari segalah Karsan dan beberapa tetangganya itu baru akan pulang ke rumah. Yang masing-masing dari mereka membawa kayu-kayu Sengon dari hutan sebelah desanya.
Lasi, tidak paham pasti, mengapa suaminya memilih menjadi penebang kayu. Padahal sebelumnya ia adalah seorang buruh tani yang tekun. Penghasilan dari menjinjing pacul dan mengapit sabit selama ini pun dirasanya sudah cukup mengepulkan asap dapur. Suaminya rutin menggarap sawah dan ladang milik pak Kades dengan sistem bagi hasil. Yang Lasi tahu, suaminya tidak lagi ke sawah saat kehamilannya menuju lima bulan.
Suatu kali, Lasi pernah menanyakan pada suaminya mengenai pekerjaannya. Sebab setiba di rumah suaminya membawa gelondhongan-gelndhongan kayu Sengon. Namun jawaban suaminya tidak begitu mengenakkan. ”Ya, buat makan kamu dan anakmu nanti,” kenangnya.
Lasi pun memaklumi perangai lelakinya itu. Terkadang ia juga membantu menjemur  glondhongan-gelondhongan kayu yang sudah dibelah menjadi beberapa bagian. Sebelum pada akhirnya kayu-kayu itu dibawa oleh lelaki yang disebut pak Darsun. Dan suaminya akan mendapat beberapa lembar duit setelah kayunya diangkut mobil contang milik pak Darsun itu.
Lasi sebenaranya tidak begitu suka dengan sosok yang bernama pak Darsun yang katanya seorang bos pabrik meubel dari desa sebelah. Awalnya, pak Darsun yang datang ke desanya sebagai laki-laki yang berpenampilan serba necis. Celana jeans bergester kulit dan kaus kerah selalu membalut perutnya yang tambun. Ujung bajunya masuk pada blue jeans tadi. Di atas rambutnya yang mulai memutih selalu bertengger topi model koboi Meksiko dan cerutu menempel di mulutnya yang berulang kali disulut saat mati.
Lasi mulai melihat lelaki tua itu sekitar lima bulan yang lalu yang datang dengan menawarkan pekerjaan kepada tetangganya di desa Lasi tinggal. Dengan gaya bicaranya yang lihai, pak Darsun dengan cepat mampu menghasut warga termasuk suaminya, untuk menebang pohon-pohon Sengon yang ada di hutan sebelah desa mereka.
Mula-mula pak Darsun bicara banyak tentang kegunaan Sengon. Untuk bahan meubel, aksesoris, dan sebagainya. Lalu menjurus pada kisaran harga yang menggunung. Inilah yang membuat suami dan beberapa tetangga Lasi tercengang. Karsan pun dengan serius mulai mempertimbangkan tawaran dari pak Darsun tersebut.
Awalnya, Karsan memang masih diberatkan dengan tawaran itu. Mengingat hutan Sengon itu adalah warisan leluhur mereka. “Kita tidak ikut menanam, ora ilok kalau kita menebangnya,” bisik Karsan pada tetangganya. Cuma, bisikan itu bertahan sementara. Kondisi perekonomian warga yang kian menjerat menggugurkan benteng pertahanan mereka. Satu persatu pergi ke hutan. Lalu di susul yang lainnya dan lainnya sampai akhirnya, Karsan sendiri juga mengikutinya.
***
Sudah hampir tiga bulan ini suaminya rutin pergi ke hutan tiap harinya. Pula tidak pernah secemas ini ia menunggu kepulangan suaminya. Hari sudah hampir sore. Kalaupun pesanan kayu yang diambil cukup banyak paling tidak suaminya telah pulang dahulu untuk mencicil membawa gelondhongan- gelondhongan Sengon dengan sepeda jengkinya itu.
Berulang kali ia keluar rumah. Berkali-kali pula ia masuk untuk memastikan bahwa suaminya belum benar-benar pulang. Ia mencoba menayakan kepada tetangga yang suami atau anaknya juga tengah ke hutan bersama suaminya. Tapi memang semuanya belum pulang.
Pinggangnya mulai nyeri. Sambil menjinjing daster lusuh ia terseok-seok masuk ke rumah. Ia kemudian duduk di balai bambu di depan rumahnya. Sejenak ia teringat lagi soal mimpinya kemarin sore. Mimpi tentang lelakinya yang terseret arus sungai. Dan belum sempat lagi atau mungkin tidak akan diceritakan lagi kepada lelakinya itu.
Tubuhnya melemas, ia lantas merebahkan badannya yang berat ke atas bale tadi. Ingatannya kembali menuntun mengeja kronologi mimpinya tersebut. Mula-mula suaminya itu hendak pulang bersama keempat rekannya. Suaminya berada di barisan paling belakang. Jalan setapak menuju desa semakin licin dan agak bencah akibat guyuran hujan semalaman. Agaknya, siang itu suaminya kurang hati-hati. Ia terpeleset. Badannya tersungkur ke depan dari jalan setapak yang berada di atas sungai tadi. Gelondhongan Sengon yang dipangkul pun ikut tersungkur. Suaminya berteriak minta tolong. Sedang teman-temannya hanya bisa balas meneriaki suaminya yang dengan cepat terbawa arus sungai yang banjir.
Sungai yang keruh dan berlumpur dengan mudah menenggelamkan suaminya. Teriakan minta tolongnya tak terdengar lagi. Tubuh suaminya entah kemana. Tidak timbul lagi. Lagi-lagi teman-temannya hanya bisa meneriaki suaminya yang sama sekali tak bisa berenang itu. Suaminya hanyut dan hilang.
Ia lantas tersadar. Ia terjerembab, mulutnya bergeming. Keringat dingin menderas dari lehernya. Nafasnya tersengal.
“Lasi.., Lasi.., Las...” terdengar terikan dari kejauhan. Lasi beranjak, dilihatinya arah suara yang memanggilnya. Suara lelaki, namun bukan suaminya. Suara yang berat dan terengah-engah.
“Ada apa kang?” tanya Lasi pada tetangganya itu.
“Anu.. Las.. Anu kang Karsan,” jawab lelaki itu tergopoh-gopoh sambil mengatur nafas.
“Kenapa kang, kenapa dengan kang Karsan?” tukas Lasi tak sabar.
“Kang Karsan tenggelam di sungai,” jawab lelaki itu yang masih kesusahan mengatur nafasnya.
Lasi lemas. Matanya berkaca dan gelap. Nafasnya putus-putus. Tubuhnya lunglai. Kedua kakinya seakan tak mampu lagi menopang tubunya yang berat.  “Lasi.. Lasi.. Las,.. nyebut Las, nyebut.,” teriak tetangganya membimbing Lasi yang sudah tidak sadarkan diri.



….untuk hutan di sebelah desaku yang telah gundul

Gara-gara Imajinasi

/ Kamis, 17 Mei 2012 /
Pernah kamu berpikir soal keindahan yang aku hadapi kini; duduk ia di depanku, menulis ia sesuatu, mungkin berita mungkin pula esai. Sedang aku dibelakanginya bersama tumpukan buku yang berserakan di sampingnya. Buku-buku, yang tidak pernah selesai aku baca.
Aku bayangkan perempuan itu adalah satu dari manusia cerdas di dunia. Setidaknya di dunianya. Katanya, sesorang dianggap intelektual kalau ia menulis dan membaca. Apalagi tulisannya sampai menembus media. Maka gunjing sudah dibincangkan pada khalayak; di warung kopi, di angkringan sampai di kamar kontrakan dan juga ruang-ruang maya.
Dunianya memang mengakui standar itu mungkin. Aku kurang sepakat sebenarnya, intelektual tak muluk macam itu. Tapi kamu tidak perlu mengutukku. Kamu masih menghargai sebuah perbedaan kan? Kalau tidak, fasis sekali kamu.
Aku lanjutkan kisahnya. Di ruang kumuh dengan lanskap kondisi yang berantakan itu tadi, ia satu-satunya yang indah. Keindahan yang sedang kuhadapi ini kemudian melahirkan fantasi-fantasi yang menggelikan. Kubayangkan tiba-tiba duduk kami berhadapan, bersenda tawa, dan berbagi cerita. Senyum simpul, berhasil aku dapati dari raut mukanya yang jelita. Seulas masa lalu seolah tampak dari senyumnya yang mengembang menjadi tawa.
Oh Tuhan, rupanya aku sedang terapung diantara realitas dan imajinasi. Tapi biarlah, aku suka berimajinasi kok. Imajinasi menyodoriku kekuasaan yang mutlak. Aku bebas melakukan apapun. Toh aku juga benci pada realitas sebab terkadang ia tak seindah yang dibayangkan. Aku mulai lagi saja.
Sampai mana tadi? Iya, ternyata ia masih mengetik dengan tangkas. Membelakangiku serupa tadi. Sesekali menghela nafas panjang dan itu mengagumkan. Ia hela nafas dalam-dalam, seolah mengatasi kepayahan dalam dirinya sendiri. Berpikir, huruf apa yang nantinya akan ia tekan sehingga jadi kata, frasa, klausa, paragraf, sampai utuh wacana.
Saat aku sedang berjibakau dengan fakta dan fiksi itulah tiba-tiba ia menengok, mungkin merasa kulihati sejak dari tadi. Atau barangkali ini yang dinamakan panopticon ya. Seperangkat emosional yang dimiliki manusia yang sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan. Aku tidak terlalu peduli. Nyata benar ia mengajakku bicara. Soal apa itu tidak terlalu penting, yang pasti sama persis dalam imajniasiku tadi. Bedanya, aku rebahan dan menyandar dinding.
Rupanya memang benar, ia tak begitu pandai mengantongi masa lalunya hingga tersembul betul pada tawanya. Iya, ia seperti orang yang sedang melarikan diri dari apa yang disebut histori. Kata Nietszche yang begini itu buruk. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan tetapi masalalu tidak untuk dibawa kemana-kemana. Cukup kita menyimpannya dan menikmatinya pada situasi-situasi yang tepat.
                                                                               ***
Dulu sewaktu usiaku masih tujuh tahun, aku pernah dekat dengan seorang lelaki berumur paruh abad, lebih setengah dekade. Terlalu tua untuk dianggap sebagai teman. Aku mengenalnya sebaik aku mengenal saudaraku sendiri tetapi ia bukan saudaraku. Ia hanya tinggal di rumahku. Bukan serumah, melainkan bagian depan terluar rumahku. Lebih tepatnya mungkin kita seatap. Namanya Sarip, badannya kurus. Asal usulnya tidak jelas. Dari kabar yang beredar di lingkungan keluarga, bapakku menampungnya karena ia orang sebatang kara yang miskin, tidak punya apa-apa bahkan sanak saudara sekalipun. Awalnya, ingin ngangsu kaweruh kalau kata bapakku. Dan ia sudah disana bahkan jauh sebelum aku ada. Ia suka merokok dan minum kopi.
Hal yang paling aku ingat adalah kebiasaannya menyanyi saat hari mulai gelap, saat senja sedang pada anjungannya. Aku tidak pernah tahu lagu apa yang ia nyanyikan. Bahkan sebait pun aku tidak ingat. Tetapi aku hafal betul soal kebiasaan menyanyinya itu. Ia bukan seniman setahuku apalagi komposer. 
Pada suatu sore, aku pernah bertanya soal nyanyian yang hampir setiap hari ia nyanyikan. Ia menjawab hal di luar jangkauanku. Panjang dan lebar, ia bilang itu lagu kenangan. Aku didakwa tidak akan tahu sebab itu lagu di masa lalunya. Pada intinya ia mengutuk sebuah peradaban yang tiba-tiba menggilas masa lalunya. Berganti dengan peradaban yang tidak memabawa serta lagu-lagunya tadi yang terbingkai sebagai sebuah kenangan. Di radio, di telivisi tak pernah ia temukan lagi. Yaitu peradabanku waktu itu. Dan satu-satunya cara membuatnya senang adalah menyanyikannya tadi. 
                                                                              *** 
“Hey, kau melamun?” tanyanya. Belum juga aku menjawab, bibir merahnya mendarat tepat di mulutku. Aku terperangah. Bibir yang asing namun hangat. “Tidak, aku mendengarkanmu,” jawabku mengatasi kepayahan atas sebuah serangan mendadak tadi. Aku salah tingkah dibuatnya, dan ia semakin bertingkah karenanya.
Aku tidak tahu pasti, apa yang ada di pikirannya. Ia tinggalkan pekerjaannya demi mengobrol denganku. Aku berani percaya diri bahwa ia anggap aku sebagai pendengar yang baik. Pendengar yang mampu menyihir si pencerita untuk bercerita lebih. Bahkan lebih dari bercerita mungkin. 
Kamu tahu MOMO? Novel sekaligus nama tokoh utama karangan Michael Ende. Hanya dengan bercerita pada Momo, semua masalah bisa terpecahkan, bakan konon dua orang yang saling bertikai pun bisa langsung baikan saat menceritakan masalah mereka pada Momo. Bukan, aku bukan Momo laiknya dalam dongeng MOMO itu, dan aku tidak mau berimajniasi dulu soal itu. Aku bahkan tidak merasa menjadi pendengar tadi. Aku sibuk berimajinasi, berfantasi sendiri soal masa lalu yang mungkin sama dengan yang ia ceritakan.
Untuk pertamakalinya aku tidak membenci realitas, atau mungkin belum. Sebuah ciuman yang lebih dari birahi sialan itu, ada energi lain yang tersalurkan, energi yang tak sempat aku balas. Aku hanya merasakan, aku kaget, dan aku tidak habis pikir. Kamu tahu? Tapi aku senang. Senang sekali. 
Bodohnya aku bertanya, untuk apa ciuman tadi? Kamu tahu apa jawabannya? Jelaslah ia tak menjawab. Malu mungkin semalu, aku usai menanya demikian. Sudahlah aku anggap itu sebuah bayaran. Bayaran atas kesediaan untuk menjadi pendengar yang baik. Tidak perlu digamblangkan. Segala sesuatu tidak musti jelas bukan? Membuat sesuatu menjadi jelas itu tugas filsuf. Kalau Puthut EA bilang, itu kesalahan terbesar filsuf karena telah membuat jelas kehidupan. Sebab kehidupan itu omong kosong. Dan aku tidak mau menambah daftar panjang kesalahan itu. 
Aku jelas, bukan tipe lelaki yang baik untuk diajak melakukan obrolan ranjang. Terbukti ia pulang, mengemasi barang, dan menutup pintu. Tetapi sebelum pulang ia meninggalkan sebuah parfum kesayangannya. Sengaja atau tidak, ini adalah tanda. Tanda yang mengakhiri sebuah perpisahan bahwa esok ia akan datang lagi untuk parfum dan untuk sesuatu yang lainnya. Ini semacam janji yang tersirat, janji yang tidak harus ditepati. Kita berpisah memang, tetapi mata kita sama berharap akan bertemu lagi dengan mengulang adegan yang serupa.
Aku mengantarnya sampai pintu. Di luar ternyata panas. Angin menggoyangkan dedauanan Srikaya, menggesek-nggesek atap kamar yang terbuat dari seng yang seolah bilang, “Tahan, tahan dia, goblok” tidak. Aku tidak akan menahan. Aku akan menunggu ia untuk datang lagi, dan pada akhirnya giliranku untuk bercerita. Aku simpan parfumnya sampai sekarang, sampai ia akan ambil. Aku hanya akan mengingatnya, mengingatnya sampai sebuah peradaban tak lagi memihak. Aku tidak akan menyanyikan seperti kenalanku tadi. Aku akan menuliskan dan dengan menulis inilah aku senang.


Hey aku merindukanmu, yang dulu…
 
Copyright © 2010 imajinasi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger