Kala Meradang

/ Sabtu, 09 Juni 2012 /
di pagi yang masih muda keputusan besar telah dibuat
disetempel merah dengan tinta darah merekat
merah, merah, dan begitu merah...
darah dari gumpalan kecewa yang mengeras
dari kemarahan yang menggunung
dari keputusasaan yang nyeri
dari kegairahan yang akhirnya mati
bertubi-tubi
yang dicinta tidak mau mengerti
yang dirindu begitu kaku
yang dinginkan kelewat lalu
padanya kutukan tertuju
berkali-kali
di hidup yang lebih dari dialektika ini
ribuan paradoks berhulu
ada rindu tapi terselip muak
membenci tapi mencintai
mendamba sekaligus ditabukan
ia hidup namun segera mati
terus-menerus
sampai datang suatu pagi
di tepian fajar yang ojok
dengan kilatan murka melecit
bak lecut Mikail
tak ada lagi ragu di persimpangan
tak ada harap yang tersemat
atau pungguk yang merindu bulan
tak ada, tak akan, lagi






0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2010 imajinasi, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger