Jam tangan ini masih kupakai. Jam tangan darimu waktu usiaku bertambah. Kamu berikan dengan malu dan aku terima dengan sipu. Terimaksih.
"Apa ini?" tanyaku pilon sekali.
"Buka saja," pintamu genit.
"Jam tangan? Kamu tahu aku tidak suka jam tangan."
"Tapi aku tahu kamu butuh itu," timpalmu.
"Enggak juga, lagian sudah ada jam digital di ponsel."
"Belajarlah menyukai apa yang kamu butuhkan walau itu sedang kamu benci," wejangmu.
Aku terima. Aku pakai di depanmu. Geli rasa tanganku. Aku jarang memakai aksesoris di anggota tubuhku. Risih terkadang. Tapi sudahlah, barangkali aku memang membutuhkan ini. Sampai sekarang masih kupakai jam tangan ini di bagian kanan.
"Kenapa di tangan kanan?" tanyamu mengheran.
"Memangnya kenapa?" tanyaku balik.
"Kebiasaan, kalau di tanya pasti tanya balik."
"Ya, aku ingin tahu kenapa kamu bertanya begitu?"
"Ingin tahu saja, biasanya kan di tangan kiri," katamu sambil melirik jam tanganmu yang bertengger di tangan kiri.
"Kamu tahu, kenapa orang biasanya memakai di tangan kiri?" tanyaku.
"Kok jadi kamu yang mengintrogasi? Nggak tahu, mungkin lebih nyaman," tukasmu sebal.
"Dulu Ibuku pernah bilang, agama menyarankan manusia agar memakai perhiasan di tangan yang kiri. Banyak alasan memang. Tapi, ada satu gagasan yang menarik menurutku."
"Apa?" tanyamu tidak sabar.
"Sebagai penghormatan tangan kanan kepada tangan kiri. Kita makan pakai tangan kanan, agama menganjurkan itu dan ketika kita beristinja memakai tangan kiri. Biar tidak terkesan tangan kiri itu untuk hal-hal yang menjijikkan maka sudah sepantasnya diberi perhiasan termasuk jam tangan."
"Gila, rumit sekali. Terus kenapa kamu malah pakai di tangan kanan?"
"Karena aku kidal. Tangan kiriku yang justru merasa harus menghargai yang kanan."
"Kamu kidal? Enggak begitu ah."
"Iya, aku mulai membiasakan hal itu. Misal makan dengan tangan kanan. Ibuku yang meminta. Kidal itu perihal kebiasaan. Entahlah mungkin agama tidak mengenal kidal."
"Kamu memang rumit. Terserah pakai dimana saja, sesukamu."
Hampir setahun jam itu membersamai tanganku. Seolah bukan lagi aksesoris. Melainkan anggota tubuh. Entah kenpa sampai begitu lekat dengan jam itu. Bentuknya juga biasa. Harganya, katamu juga tidak sampai menguras dompet. Aku juga tidak tahu jam tangan yang bermerk.
"Yang ini bagus nggak"? tanyamu di toko jam tangan waktu itu.
"Bagus. Kamu mau pekek itu?" tanyaku.
"Iya, aku ingin membelinya."
"Iya, aku ingin membelinya."
"Kok kayak cowok gitu ya?"
"Memangnya ada jenis kelaminnya?" godamu.
"Terserah deh," responsku kesal.
Baru aku tahu ternyata jam tangan itu buatku. Kamu memang terkadang menyembunyikan hal-hal kecil untuk membuat kejutan. Walau terkadang aku tidak terkejut. Kamu pandai membuatku kesal tapi lebih pandai lagi membuatku girang.
"Terserah deh," responsku kesal.
Baru aku tahu ternyata jam tangan itu buatku. Kamu memang terkadang menyembunyikan hal-hal kecil untuk membuat kejutan. Walau terkadang aku tidak terkejut. Kamu pandai membuatku kesal tapi lebih pandai lagi membuatku girang.
"Hahaha sial, ini jam tangan yang waktu itu."
"Yang mana, yang berjenis kelamin?" godamu.
"Grrrrr....."
Belakangan ini aku suka menyendiri. Menyendiri bagiku adalah kebutuhan. Walau manusia telah ditashih sebagai mahluk sosial, sesosial apapun ia, kukira tetap butuh menyendiri. Merenung, menyesal, mengutuk diri, mengumpat, membatin, dan bahkan bermonolog. Ya aku terkadang bermonolog dengan jam tangan ini. Jam tangan darimu waktu itu.
Belakangan ini aku suka menyendiri. Menyendiri bagiku adalah kebutuhan. Walau manusia telah ditashih sebagai mahluk sosial, sesosial apapun ia, kukira tetap butuh menyendiri. Merenung, menyesal, mengutuk diri, mengumpat, membatin, dan bahkan bermonolog. Ya aku terkadang bermonolog dengan jam tangan ini. Jam tangan darimu waktu itu.
Di keremangan alun-alun Magelang, gelap malam menyergapku. Remah-remah gerimis membuyarkan ingatanku silam. Tidak kusangka jam tangan itu begitu jelas dan tegas mengukir senyummu yang telah hilang. Senyum yang sudah berminggu-minggu ini melenyap bersama kejutan-kejutan kecil yang membahagiakan. Pergerakan menuju detik mengupas kenangan demi kenangan yang sublim. Lajuan ke menit memantapkan langkah kita yang begitu kokoh ke depan. Indah sekali rasanya.
"Ah.. Oh. Lhoh.." Jam tangan itu meredup.
Segera kuputar satu-satunya tombol di jam itu. Ke arah yang berlawanan. Menuju masa lalu. Barangkali waktu telah melaju begitu cepat. Dan kamu tertinggal disana. Kedua jarum yang lebih panjang berputar balik begitu cepat. Tidak kudapati kamu di angka manapun. Kamu dimana? Kamu dimana? Kamu dimanaaa?
Aku lunglai. Tertampar teriakanku sendiri. Aku pandangi jam itu lagi. Sosok wajah sinis menyapa bengis. Bukan, itu bukan kamu.
"Ah.. Oh. Lhoh.." Jam tangan itu meredup.
Segera kuputar satu-satunya tombol di jam itu. Ke arah yang berlawanan. Menuju masa lalu. Barangkali waktu telah melaju begitu cepat. Dan kamu tertinggal disana. Kedua jarum yang lebih panjang berputar balik begitu cepat. Tidak kudapati kamu di angka manapun. Kamu dimana? Kamu dimana? Kamu dimanaaa?
Aku lunglai. Tertampar teriakanku sendiri. Aku pandangi jam itu lagi. Sosok wajah sinis menyapa bengis. Bukan, itu bukan kamu.
Pukul 21.00. Oh aku ada janji dengannya. Perempuan sinis yang dengannya selanjutnya aku akan berharap manis.


2 komentar:
Merekonstruksi sejarah po cin..hahhaha
kenangan bak setan cin. datang drmana sj, apa saja dan kapan saja. hahaha kepergian kalian membuatku merindu sesorang.
Posting Komentar